Menulis Artikel
yap betul sekali, saya lagi ngobrolin tentang yang namanya menulis artikel. artikel lo ya bukan buku pegangan, buku pelajaran, ataupun karya ilmiah, tidak sama sekali. saya tidak sedang membahas tentang tulisan yang bahasanya formal, diksi (pemilihan kata) sangat advance, tinggi, membuat dahi kita mengkerut, karena bingung dengan definisinya, dan sebagainya, dan sebagainya, bla bla bla…. oh tidak bukan itu. apa yang saya bahas adalah sebuah karya tulis pendek tentang sebuah tema yang relatif menarik untuk di bahas. pendek saja, ya kira-kira satu halaman kertas folio bergaris. Temanya bisa apa saja, terserah kita sebagai penulisnya. kalau anda tertarik dengan kuliner, pakailah tema kuliner. kalau anda tertarik membahas sepakbola, pakai itu sebagai tema artikel anda. tertarik dengan musik? comot saja lalu pakai sebagai tema. La kalau fashion gimana? bolehlah, otomotif? silahkan deh, gadget? monggo kerso, no problemo. Gaya bahasanya juga bebas lo, bisa formal atau non formal, bisa lokal, bisa internasional, gaulpun juga boleh, dan kalau anda cukup hebat dan yakin mampu memahami dan membuat paham pembaca anda nantinya, silahkan saja, anda memakai bahasa isyarat atau lebih hebat lagi, pakai bahasa tubuh (itu gimana nulisnya?), ndak papa, ndak ada yang nglarang kok. kalau ada yang nglarang, bilang saya, ya cukup bilang saja, masak mau minta bantuan atau ganti rugi he…
lah terus kenapa sih kok saya sangat concern dengan hal ini? kelihatannya sepele ya. apaan sih menulis aja loh? jangan alay jablay lebay gitu ah.. kan tinggal nulis aja kan? apa susahnya? hehe. For Your Information, saya dulu juga menganggap mudah menulis artikel itu, dan cenderung meremehkan malah. Tapi begitu saya mencoba membuktikan betapa mudahnya menulis itu, saya harus mengakui ternyata sulitnya ampun-ampun, sulitnya itu pun sudah dimulai bahkan ketika masih pada tahap memilih tema/topik yang akan saya bahas. wah itu bisa memakan waktu seharian betul. tapi Alhamdulillahnya, saya tidak menyerah dalam mencari tema tulisan saya, itu sisi positifnya.
Nah setelah saya jalani kegiatan tulis menulis/ketik mengetik ini, saya jadi menyadari bahwa ternyata ada beberapa kelebihan dalam menulis artikel lo, ya minimal menurut pengalaman pribadi saya. Pertama, dengan menulis artikel, saya sebenarnya sedang melakukan yang perubahan pola pikir/mindset, yang awalnya berpola pikir reaktif menjadi proaktif dan menjadi lebih kreatif. dan saya kira ini juga bermanfaat juga buat teman-teman semua. lo maksudnya? begini, selama ini jika saya perhatikan dari pengalaman saya selama belajar di bangku sekolah dan kuliah, kita hanya diajarkan menjadi seorang yang task minded, artinya berpola pikir tugas, diberi tugas untuk mengerjakan pekerjaan A, maka kita akan mengerjakan A. Kalau B ya B, C ya C, dan seterusnya. ini terlihat dari bagaimana ujian-ujian di sekolah dan kampus yang dulu saya masuki. setiap ujian baik itu kuis, UTS, UAS, dan U-U yang lain, selalu berorientasi soal-jawaban. “Apa yang dimaksud dengan….”, sebutkan apa saja faktor….”, jelaskan apa yang dimaksud dengan….” ya kan? Model tanya jawab seperti ini memang ada kelebihannya, apa? ya itu tadi, kita akan terbiasa melakukan tugas yang diberikan kepada kita. tapi dari apa yang saya alami, model ini juga memiliki kelemahan juga, apa itu? KREATIFITAS kita kurang terasah karena kita tidak mendapatkan kebebasan yang cukup di situ, kalau jawabannya bukan A, pasti salah, kalau nggak B, ndak lulus. model tanya jawab/soal malah bisa jadi akan membatasi kreatifitas kita.
dengan menulis artikel inilah, saya yakin bahwa kreatifitas kita bisa di asah. dan ini sedang saya lakukan kepada mahasiswa saya. topiknya boleh saja dibatasi dan memang sebaiknya dibatasi, agar tidak ngglambyar kemana2, nyelentang ngalor ngidul, tapi untuk judul silahkan mahasiswa sendiri yang menentukan, lo enak to? ibaratnya kalau bapak saya bilang, tak ajangi ombo, wes sak karep-karepmu… Ibaratnya silahkan buat artikel dengan topik Pemasaran, tapi fokus permasalahannya silahkan bikin sendiri, anda kembangkan sendiri ya. Kurang enak gimana saya? tapiiii… tau tidak, begitu saya suruh mahasiswa menulis artikel, langsung garuk-garuk kepala mereka, sambil tolah toleh kiri kanan. begitu saya tanya kenapa? “susah pak, belum terbiasa sih, kami biasanya pake model soal tanya jawab, bapak kasih soal, kami yang jawab”. (tapi saya yakin jawaban mereka sebetulnya seperti ini, “bapak kasih soal, kami yang pusing” *eh). terbiasa di taruh dalam sangkar, begitu di bebaskan, langsung kagok mereka, bingung mau ngapain. terbiasa main bola di tempat sempit, begitu disuruh main di lapangan yang lebih luas, diam saja tak bergeming sedikitpun, kenapa? bingung. terbiasa disuruh-suruh, begitu di biarin, buat pekerjaan sendiri, bingung langsung….
Relax, tenang saja, ntar lama-lama terbiasa kok, dan bahkan bisa-bisa muncul anggapan menulis itu ternyata mengasyikan loh, yang lebih gawat lagi, malah kecanduan!! sebagaimana kecanduan beberapa mahasiswa saya akan kopi di pagi hari…
Guys, Fren, adik-adiku, dunia di luar sana penuh dengan solusi alternatif dan sifatnya kadang dan bahkan sering kali relatif, alternatif bisa didapatkan jika orangnya kreatif, relatif berarti tidak pasti, dalam arti solusi permasalahan sekarang tidak bisa dipakai untuk masa depan, dan untuk mendapatkan solusi barupun, juga dibutuhkan manusia kreatif….
yah semoga usaha saya ini dipandang sebagai ibadah dan diridhoi ALLAH SWT, manusia kan diwajibkan berusaha, masalah hasil sudah bukan urusan manusia, tapi urusan-Nya..
Find Friends Who Use WordPress
Hai, ini murni sekedar intermezzo saja guys, WP baru-baru ini mengeluarkan feature baru, yang menurut saya pribadi sangat bagus. apa itu? ya, sesuai judul di atas, feature ini mampu membantu kita untuk menemukan kenalan-kenalan kita yang juga punya blog WP. pencarian teman ini melalui facebook, twitter, dan google+, kalau punya smua akun itu, wah manjur gan hasilnya nanti. memang ini tidak menjamin follower blog WP kita akan meningkat, tapi setidak ada peluang ke arah sana kan? ya minimal blog WP yang kita follow pasti sungkan jika tidak follow balik ke kita, intinya, “you follow i, i follow u”, let’s hope so
jadi buruan gan, tunggu apa lagi? klik saja link di bawah ini….
Kasus Marketing: Ganool.com
Barusan saya iseng browsing internet, namanya iseng, ya tujuannya macem-macem, pertama iseng-iseng cek software versi terbaru, khususnya buat handphone saya, eh siapa tahu whatsapp dan nimbuzz keluar versi terbarunya,lalu lihat-lihat manga naruto chapter terbaru, dan terakhir saya browsing film-film terbaru, maka tanpa pikir panjang lagi saya langsung menulis ganool.com. dan setiap kali hampir setiap saya cari film, saya pasti nglencernya ke ganool.com. Tahu ganool.com? nama yang aneh ya. Tapi nama ini tidak terasa aneh bagi pengunjung setianya, termasuk saya. For your information (FYI), ganool.com ini adalah website penyedia film gratis, genre film yang ditawarkan juga banyak, dari anime sampai film 3D, dari Hollywood sampai Jepang, dari yang action (pencilakan + pecicilan), lalu drama (berderai air mata), sampai yang horror juga ada. Kualitas filmnya pun juga macem2, dari yang versi CAM (kamera) sampai Bluray atau bahkan kalau kita ingin kualitasnya maksimal ya cari yang 3D pun juga ada. Pengunjung setia ganool.com itu sudah lintas negara, bahkan mungkin lintas benua juga, ada yang dari India, Iran, Thailand, dst. Yang tidak kalah penting, juga telah menjadi jujugan saya setahun terakhir ini Hehehe…
Saya yakin bahwa apa yg Ganool.com tawarkan (produk) sangatlah klop dengan sebagian besar keinginan masyarakat (baik Indonesia ataupun Dunia), dimana kata kuncinya adalah GRATIS, artinya dapet film tapi ndak mbayar gitu loh. Maka tidaklah mengherankan jika Ganool.com menjadi website populer di dunia maya, indikator paling simpelnya adalah ranking alexanya mencapai angka di bawah 100ribu.
But sadly, ganool.com baru-baru saja mengumumkan bahwa mereka tidak akan menyediakan link URL Mediafire untuk film-film mereka. Ganool.com beralasan bahwa) pihak mediafire telah menghapus file dan akun Ganool.com sampai 7x dan file hasil upload selama 2 tahun hilang seketika! Hal ini terjadi karena banyak orang egois yang membagi-bagikan link ganool.com di website mereka (Shame on them!!).
alasan lain mengapa Mediafire melakukan penghapusan file tersebut bisa jadi dilatarbelakangi oleh kebijakan SOPA (Stop Online Pirate Act) dan ACTA. Salah satu korban website file sharing yang terkenal adalah Megaupload, bahkan secara teknis, Megaupload sudah ‘mati’, tidak bisa diapa2kan lagi, kalau teman-teman sempat membuka halaman website Megaupload, maka kita hanya akan menemukan pengumuman FBI Anti-Piracy. Mediafire terpaksa melakukan penghapusan agar tidak mengalami nasib yang sama seperti Megaupload.
Nah yang menariknya di sini, ketika Ganool.com menjelaskan situasi tersebut ( http://www.ganool.com/2012/04/why-no-mediafire.html? ) ternyata respon dari para pengunjung setia atau fannya membludak, sangat banyak sekitar 1300an lbh orang, dan saya termasuk salah satunya. Anda boleh setuju boleh tidak, tapi bagi saya, jumlah respon sebanyak seribu lebih fan atau pengunjung merupakan bukti hebatnya positioning Ganool.com di mata konsumennya dalam hal ini pelanggannya. Artinya Ganool.com mempunyai posisi tersendiri di benak pelanggannya. sangatlah jarang bagi seorang pengunjung website untuk bersedia memberi respon ataupun komentar pada sebuah website/blog, kecuali pengunjung tersebut punya sebuah ‘ikatan’ dengan website itu.
.:. Sekilas INFO GAN!!
Ganool.com bisa di buka di dua alamat, ganool.com dan ganool.blogspot.com, salah satunya bisa pastinya. kalau masih ndak bisa juga, buka aja link film di laman FBnya mereka, nantikan larinya mesti ke websitenya juga hehehe…
recent update: Ganool.com lagi maintainance…yang sabarrrrrrr
Nasi Pecel
Nasi Pecel
Siapa yang tidak kenal dengan makanan yang satu ini. Nasi diberi sayuran, bumbu sambal kacang pedas, peyek kacang atau teri, di beberapa daerah juga ditambah ‘tumpang’ (sayuran dengan bahan dasar tempe, tempe bosok tepatnya!) dan tak lupa beberapa jenis lauk pauknya seperti tempe goreng atau tahu goreng. Terus terang saya nulis deskripsi nasi pecel tadi dalam kondisi bersimbah…bersimbah air liur, ngiler soalnya.
Sebetulnya nasi pecel ini merupakan makanan dari desa, tapi di kota tempat tinggal saya, kota Malang, nasi pecel merupakan salah satu makanan favorit masyarakatnya, sudah terkenal dan bermacam-macam pula. Ya mungkin karena Malang termasuk dalam kategori ‘kota’ ya, akhirnya Malang jadi sasaran para warga pendatang dalam mencari penghidupan, salah satu caranya ya jualan nasi pecel, bisa jadi begitu..
Nah makna nasi pecel bermacam-macam itu ada beberapa definisi. Pertama, bermacam-macam itu bisa berarti bermacam-macam nama nasi pecelnya, mulai nasi pecel Tulungagung, nasi pecel Madiun, nasi pecel Kediri, nasi pecel Ngawi, nasi pecel Nganjuk, nasi pecel Jombang, nasi Pecel Kertosono, nasi pecel Blitar, nasi pecel Madura (ada tah?), itupun hanya beberapa jenis nasi pecel yang saya tahu.
Selebihnya monggo diputeri sendiri saja Indonesia ini, pasti anda akan menemukan nama nasi pecel baru, tapi ndak perlu sampai keliling luar pulau Jawa, bisa-bisa mubazir, soalnya setahu saya nasi pecel asalnya dari Jawa, khususnya Jawa Timur, pun setahu saya kok ndak ada yang namanya pecel jayapura, pecel palangkaraya ya? Terus kalau sampeyan tanya saya tentang perbedaan dari masing-masing nama nasi pecel itu tadi, maka dengan sangat menyesal saya harus mengatakan bahwa saya ndak tau babar blas. Karena komponen nasi pecel yg penting buat saya dan harus ada itu ya cuma, sayuran, sambel pecelnya (ya pastilah), dan peyeknya, sementara kalau nasi ya sudah otomatislah, ndak usah dihitung, tapi harus ada. Masalah sayurnya pake sayur apa, saya ndak pernah menuntut jenis tertentu, yang penting ada sayurannya.
Ada sih seorang teman yang bilang ke saya, kalau nasi pecel dari daerah x itu ada lamtoronya, daerah y ada cambahnya, sementara daerah z ada irisan timunnya. Bla bla bla, dst dst… Buat saya sih sederhana saja, pokoknya ketika nasi sudah masuk mulut dan rasa sambel pecelnya terasa pas, tidak terasa aneh, ya sudah, lanjutken makannya, saya tidak ambil pusing dengan jenis pecelnya, isinya apa saja, dari mana, pokoknya hajar saja bleh….
Kedua, bermacam-macam itu juga berarti bermacam-macam pula bahan sayuran yang dicampur dalam nasi pecel tersebut. Ada yang memakai daun pepaya, daun singkong, daun seledri, gubis, cambah dan bahkan ontong pisang juga tidak ketinggalan untuk ikut di campur.
Ketiga, bermacam-macam itu juga berarti bermacam-macam pula jenis penjual nasi pecel itu, mulai dari penjual warung sederhana sampai restoran berbintang pun bisa menjual nasi pecel. Maklum, bahan sambel pecelnya mudah dibuat, bahkan ibu atau istri kita pun bisa membuat sendiri, dan kalau masih pingin lbh praktis lagi, kita bisa beli sambel pecelnya saja yang sudah tersedia di toko-toko…
Nah bicara mudahnya kita membuat nasi pecel sendiri, ada sesuatu yang menarik nih..
Kalau saya amati, walaupun membuat nasi pecel sendiri itu mudah, tapi ternyata masih banyak juga orang yang memilih untuk langsung beli nasi pecel ke warung.
Fenomena ini muncul bisa disebabkan beberapa sebab, dua diantaranya:
Pertama, mungkin orang tersebut sangat sibuk, setiap detik baginya sangat berharga, punya sedikit waktu luang. Jadi tinimbang membuat nasi pecel sendiri, lebih baik beli nasi pecelnya langsung. Bisa juga mungkin istrinya juga bekerja mencari nafkah, karena sibuk bekerja, sang istri semakin punya sedikit waktu luang dalam menyiapkan sarapan keluarga. Situasi seperti ini pula yang menuntut kepraktisan dlm urusan dapur.
Kedua, mungkin bisa jadi seseorang lebih memilih membeli langsung ke warung atau makan langsung di warung nasi pecel karena suasana di warung nasi pecel itu yang khas. Sebagaimana jika kita ke McD, pizza hut, KFC, suasana tempatnya kan khas ya.
Saya pun juga seperti itu, saya lebih sreg dengan nasi pecel yang dijual di pinggir jalan, di warung sederhana, temboknya dari anyaman bambu. Menu makanannya hanya satu, ya nasi pecel itu tadi, sedangkan minumannya standar saja yakni teh panas atau hangat, agak kerenan sedikit ya, jeruk anget. Nasi pecel itu pun disajikan tidak dengan piring, tapi dengan daun pisang (bahasa jawa: pincuk).
Saya kadang gak yakin ketika pecel itu di sajikan dengan piring lebar, nasinya sedikit, krupuk peyeknya sak upil, satu lagi, hadew, rasanya ada yang aneh, nggak sreglah. Ya walaupun bicara ‘taste’ mungkin tidak ada perbedaan, artinya rasanya ya boleh jadi samalah, antara yang pecel pincuk sama pecel versi restoran. Tapi jika kita bicara nuansa, atau sesuatu yang sifatnya lebih abstrak, sesuatu yang hanya bisa di nilai dari perasaan kita, feeling kita, pasti jelas berbeda, khususnya buat saya pribadi.
Dan feeling itu pun tidak hanya di nasi pecel saja, tapi merembet ke nasi yang lain juga. seperti nasi gudeg Jogja dan nasi liwet khas Solo. Buat saya ya itu tadi deh, lebih mantap kalau makan nasi Gudeg atau Liwet itu sambil lesehan, di trotoar pinggir jalan, suasananya khas soalnya dan insya Allah lebih murah hehe…
Indahnya Berbagi (Marketing)
Indahnya berbagi..
Teman-teman, saya mau bertanya nih? Pernah nggak mengunjungi detik.com? pasti pernah dong. Saya yakin itu. Pernah mencoba download majalah Detik? Dan kalau pernah, untuk mendapatkan majalah Detik tersebut, apakah kita harus mengeluarkan sejumlah uang? Pasti jawabannya nggak, sepeserpun nggak keluar duit deh, alias Gratis. Dan keGRATISan inilah yang akan saya bahas kali ini. Soalnya menarik sih buat saya…
Sekedar selingan, Detik.com adalah sebuah portal berita digital dari Indonesia. Ya sederhananya semacam “Jawa Pos”, bedanya Detik.com berformat digital, tidak berbentuk fisik, sedangkan Jawa Pos ada bentuk fisiknya. So kalau teman-teman bertanya pada para penjual koran di perempatan jalan, di pinggir jalan (ya pastilah, masak di tengah jalan??), “Mas/dek, ada Koran detik nggak?” maka saya yakin dengan seyakin-yakinnya (haqqul yaqqin) ekspresi wajah yang dibuat oleh si penjual Koran tersebut adalah ekspresi kebingungan! Itu yang pertama, nah yang kedua, kemungkinan besar si penjual Koran itu akan menjawab begini “Koran Detik? Apaan tuh? Dari awal jualan Koran, gak pernah tuh denger Koran Detik?”…
Ok kembali ke soal Gratisnya Majalah Detik tadi, mari kita pikirkan bersama-sama, pasti anda sepakat dengan saya bahwa adalah wajar bagi sebuah perusahaan dalam menawarkan sebuah produk, mereka juga men-charge kita dengan sebuah harga. “Ada Uang, ada Barang”. Model pertukaran/transaksi ini dipercaya sudah berjalan setua umur manusia itu sendiri, dimulai dengan barter hingga pertukaran menggunakan alat transaksi berupa uang. Dan kita semua sudah terbiasa dengan model ini. Nah anehnya, untuk mendapatkan Majalah Detik, kita tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun, alias FREE, dan kualitas Majalah Detik juga bagus juga, ulasannya tajam juga…
Ternyata fenomena ini sudah jamak dilakukan dibeberapa tahun terakhir ini, artinya konsumen mendapatkan sebuah produk dengan FREE tapi kualitas barangnya PREMIUM. Pernah memakai Avast? Avira Antivir Personal? Comodo Firewall? Punya akun Google? Yahoo? Twitter? Facebook? Beberapa teman pasti punya. dan itu free semua ya.
Beberapa latar belakang munculnya Produk FREE-MIUM itu adalah…
Pertama, Produk FREE tapi PREMIUM itu hanya dipakai sebuah pancingan pada kita, sebagai konsumen mereka. Memancing atau menganjurkan kita untuk mau membeli dan memakai produk mereka yang kualitasnya lebih baik, better dan itu berbayar. Mari kita lihat ke avast.com atau avira.com, di halaman awal mereka terdapat 3 level produk software antivirus mereka, selalu di mulai dari tingkat personal/Free, lalu beranjak ke tingkat Internet security. Nah di tingkat Internet security ini, ada beberapa fitur tambahan dan fitur tersebut tidak ada di tingkat personal, seperti spam filter, antipishing, antispyware, dan seterusnya. Ketika seorang konsumen merasa puas dengan produk FREEMIUM tersebut, mereka percaya bahwa kualitasnya bagus, maka akan lebih mudah bagi perusahaan tersebut untuk menawarkan produk lainnya.
Kedua, berfungsi untuk meningkatkan loyalitas konsumennya. Contohnya saya sendiri, saya termasuk pengunjung setia Detik.com karena selain beritanya cepat ter up-date, juga karena saya bisa mendapatkan majalah Detik.com secara gratis dan ulasannya juga tidak kalah bagus juga dengan majalah/Koran-koran bebayar lainnya.
So boleh jadi produk yang sifatnya FREEMIUM (FREE tapi PREMIUM) itu bukanlah murni produk, dalam arti hanya berfungsi bagi konsumen, dikonsumsi, dihabiskan, tapi punya fungsi promosi juga. Beberapa ahli pemasaran mengatakan bahwa Produk itu sendiri sudah merupakan alat promosi yang ampuh bagi perusahaan kepada konsumennya. Ya iya juga ya…
AC Milan case study (A Lesson)
Menarik sekali membaca berita olah raga beberapa hari ini. Terutama sepakbola Liga Champion Eropa . Bagaimana tim favorit saya, AC Milan di buat kelabakan oleh Arsenal ketika di jamu di kandang mereka. Di Emirat Stadium, Arsenal mampu memasukkan 3 goal tanpa balas, dan semua gol terjadi di babak pertama. Harus saya akui sejak awal menjelang pertandingan leg ke-2, Saya pribadi sudah yakin bahwa AC Milan akan kebobolan, pun yakin juga pasti kalah, tidak masalah harus kalah, yang penting lolos. Tapi tidak dengan skor mencolok seperti itu!
Anda bisa bayangkan sendiri, bagaimana tim favorit anda harus menderita kebobolan 3-0 di leg ke-2, setelah mampu menang 4-0 di leg ke-1, dan hampir bisa menjadi 4-0 jika saja tendangan cukit Van Persie tidak bisa di tahan oleh Abbiati di babak ke 2. Betapa akan terasa seperti kiamat saja pada malam itu?? Ketika goal pertama Arsenal yang terjadi di menit-menit awal babak pertama, rasanya seperti, mmm..istilah gaulnya itu …“Makjleb”. Begitu AC Milan Kemasukan lagi, saya pun makjleb lagi. Kemasukan lagi untuk gol yang ke 3, tambah Jleb lagi + susah nafas + mengelus dada!!…
Analisa sederhana saya tentang penyebab “off”-nya permainan Milan di babak 1 mungkin…
Formasi yang dipakai Allegri tidak bisa membendung kolektifitas Arsenal. Dan allegri memang “terpaksa” menggunakan formasi itu karena banyaknya gelandang Milan yang cedera. Dengan formasi 4-3-3nya Milan vs 4-5-1nya Arsenal, yang berarti 3 gelandang Milan melawan 5 gelandang Arsenal. Arsenal bisa dengan leluasa menekan gelandang Milan dengan ketat, dan membuat Milan sering kehilangan bola.
Baru di babak ke 2, ketika salah satu penyerang Milan diganti dengan gelandang Aquilani, Milan mulai bisa mengimbangi dan bahkan bisa membuat Arsenal gentian kedodoran menjaga daerah pertahanannya. Selama di babak ke 2 pula, saya terus berteriak lantang, “MILAN! KAMU BISAA!! AYO BUAT GOL! JANGAN SAMPAI KEBOBOLAN!! (tapi dalam hati, maklum dini hari)
Ketika jeda pertandingan, saya sempat punya pikiran, Ada tidak ya, di antara teman Milanisti yang karena begitu inginnya AC Milan lolos, sampai dibela-belain sholat tahajjud? Hehehe, sambil berdoa, “Ya Allah, jika Milan tidak lolos, maka loloskanlah mereka ke babak selanjutnya ya Rob (suatu bentuk do’a yang MEMAKSA), karena kalau tidak kepadaMu ya Rob, hamba harus meminta kepada siapa lagi? PSSI? -_- *sambil menengadahkan tangan ke atas*….
Akhirnya saya bisa bernafas lega dan berangkat ke kantor dengan semangat tinggi ketika peluit panjang ditiup, sebagai tanda bahwa pertandingan LC leg ke-2 sudah berakhir, sekaligus memastikan AC Milan, tim kesayangan saya lolos ke babak selanjutnya
. Anda boleh percaya boleh tidak, begitu AC Milan dipastikan lolos, mendadak feeling saya terasa sangat tenang, pundak saya rasanya ringan sekali. Seperti tanpa beban, tanpa masalah, mantap sekali kaki ini melangkah. Dan saya pun tebar senyuman kepada semua orang yang menyapa saya J, melihat dunia itu terasa terang benderang…
Begitu juga jika ternyata Milan gagal lolos, artinya yang lolos adalah Arsenal (entah bagaimana cara dan hasilnya, lewat perpanjangan waktu, adu penalty, atau pertandingan dramatis), saya bisa bayangkan betapa buramnya dunia ini, rasanya malas untuk berangkat ke kantor, malas buka internet, malas baca Koran. Belum lagi kita harus siap menjadi bahan tertawaan teman-teman kita sehari penuh gara-garanya Milan gagal lolos. Saya bisa bayangkan jika Milan benar-benar gagal lolos, maka pekerjaan saya di kantor bisa terbengkalai, karena saya “terpaksa” sibuk membalas komentar yang ada di chat grup Whatsapp , di Facebook , mungkin juga di Twitter , karena saya “tidak terima” tim kesayangan saya jadi bahan tertawaan. Pokoknya…” Senggol, Bacok!! ”
Saya sempat membaca berita di internet, yang mengatakan bahwa ada seorang anak yang harus sampai pindah sekolah karena dia tidak tahan ejekan teman-teman sekolahnya tentang kekalahan beruntun tim kesayangan anak itu. WOW, sampai dibela-belain pindah sekolah ya, betul-betul supporter sejati
Apa yang saya ceritakan di atas bisa jadi mewakili bagaimana perasaan beberapa kawan tentang tim sepakbola kesayangannya. Ya memang tidak semuanya sama persis perilakunya, mungkin ada beberapa yang menganggap sama, tapi ada juga yang menganggap cerita di atas terlalu di lebih-lebihkan. Tapi saya yakin bahwa pada dasarnya semua supporter punya perilaku yang sama, jika tim favoritnya menang, supporter senang, tapi jika tim favoritnya kalah, supporter pun sedih.
Saya pun bertanya-tanya dalam hati, seandainya konsumer sebuah merek produk sampai bersikap seperti supporter sebuah tim atau klub sepak bola seperti apa yang saya ceritakan di atas, betapa beruntungnya merek itu ya? Punya consumer yang mau membela merek tersebut, mendukung merek agar tetap menjadi nomor 1, jika merek tersebut membuat kesalahan, maka konsumen itu bersedia memaafkannya dan menunggu dengan sabar dan memendam kekecewaannya ketika merek itu sedang berjuang menebus kesalahannya. Sebuah loyalitas tanpa batas. WOW..
*ini merupakan ujicoba via wordmobi, wordpress E63


























Komentar Terakhir