Find Friends Who Use WordPress

Hai, ini murni sekedar intermezzo saja guys, WP baru-baru ini mengeluarkan feature baru, yang menurut saya pribadi sangat bagus. apa itu? ya, sesuai judul di atas, feature ini mampu membantu kita untuk menemukan kenalan-kenalan kita yang juga punya blog WP. pencarian teman ini melalui facebook, twitter, dan google+, kalau punya smua akun itu, wah manjur gan hasilnya nanti. memang ini tidak menjamin follower blog WP kita akan meningkat, tapi setidak ada peluang ke arah sana kan? ya minimal blog WP yang kita follow pasti sungkan jika tidak follow balik ke kita, intinya, “you follow i, i follow u”, let’s hope so 🙂

jadi buruan gan, tunggu apa lagi?  klik saja link di bawah ini….

Find Friends Who Use WordPress.

Iklan

Kasus Marketing: Ganool.com

Barusan saya iseng browsing internet, namanya iseng, ya tujuannya macem-macem, pertama iseng-iseng cek software versi terbaru, khususnya buat handphone saya, eh siapa tahu whatsapp dan nimbuzz keluar versi terbarunya,lalu  lihat-lihat manga naruto chapter terbaru, dan terakhir saya browsing film-film terbaru, maka tanpa pikir panjang lagi saya langsung menulis ganool.com. dan setiap kali hampir setiap saya cari film, saya pasti nglencernya ke ganool.com. Tahu ganool.com? nama yang aneh ya. Tapi nama ini tidak terasa aneh bagi pengunjung setianya, termasuk saya. For your information (FYI), ganool.com ini adalah website penyedia film gratis, genre film yang ditawarkan juga banyak, dari anime sampai film 3D, dari Hollywood sampai Jepang, dari yang action (pencilakan + pecicilan), lalu drama (berderai air mata), sampai yang horror juga ada. Kualitas filmnya pun juga macem2, dari yang versi CAM (kamera) sampai Bluray atau bahkan kalau kita ingin kualitasnya maksimal ya cari yang 3D pun juga ada. Pengunjung setia ganool.com itu sudah lintas negara, bahkan mungkin lintas benua juga, ada yang dari India, Iran, Thailand, dst. Yang tidak kalah penting, juga telah menjadi jujugan saya setahun terakhir ini Hehehe…

Saya yakin bahwa apa yg Ganool.com tawarkan (produk) sangatlah klop dengan sebagian besar keinginan masyarakat (baik Indonesia ataupun Dunia), dimana kata kuncinya adalah GRATIS, artinya dapet film tapi ndak mbayar gitu loh. Maka tidaklah mengherankan jika Ganool.com menjadi website populer di dunia maya, indikator paling simpelnya adalah ranking alexanya mencapai angka di bawah 100ribu.

But sadly, ganool.com baru-baru saja mengumumkan bahwa mereka tidak akan menyediakan link URL Mediafire untuk film-film mereka. Ganool.com beralasan bahwa) pihak mediafire telah menghapus file dan akun Ganool.com sampai 7x dan file hasil upload selama 2 tahun hilang seketika! Hal ini terjadi karena banyak orang egois yang membagi-bagikan link ganool.com di website mereka (Shame on them!!).

alasan lain mengapa Mediafire melakukan penghapusan file tersebut bisa jadi dilatarbelakangi oleh kebijakan SOPA (Stop Online Pirate Act) dan ACTA. Salah satu korban website file sharing yang terkenal adalah Megaupload, bahkan secara teknis, Megaupload sudah ‘mati’, tidak bisa diapa2kan lagi, kalau teman-teman sempat membuka halaman website Megaupload, maka kita hanya akan menemukan pengumuman FBI Anti-Piracy. Mediafire terpaksa melakukan penghapusan agar tidak mengalami nasib yang sama seperti Megaupload.

Nah yang menariknya di sini, ketika Ganool.com menjelaskan situasi tersebut ( http://www.ganool.com/2012/04/why-no-mediafire.html? ) ternyata respon dari para pengunjung setia atau fannya membludak, sangat banyak sekitar 1300an lbh orang, dan saya termasuk salah satunya. Anda boleh setuju boleh tidak, tapi bagi saya, jumlah respon sebanyak seribu lebih fan atau pengunjung merupakan bukti hebatnya positioning Ganool.com di mata konsumennya dalam hal ini pelanggannya. Artinya Ganool.com mempunyai posisi tersendiri di benak pelanggannya. sangatlah jarang bagi seorang pengunjung website untuk bersedia memberi respon ataupun komentar pada sebuah website/blog, kecuali pengunjung tersebut punya sebuah ‘ikatan’ dengan website itu.

.:. Sekilas INFO GAN!!

Ganool.com bisa di buka di dua alamat, ganool.com dan ganool.blogspot.com, salah satunya bisa pastinya. kalau masih ndak bisa juga, buka aja link film di laman FBnya mereka, nantikan larinya mesti ke websitenya juga hehehe…

recent update: Ganool.com lagi maintainance…yang sabarrrrrrr

http://id.wikipedia.org/wiki/Stop_Online_Piracy_Act

AC Milan II (Case Study)

AC MILAN

Setiap klub sepak bola di seluruh dunia pasti paham tentang pentingnya suppoter. Selain menjadi “pemain ke 12”, supoter juga dipandang sebagai sumber pemasukan lain bagi Klub-klub besar. Semakin besar basis supporternya, semakin besar pula peluang keuntungan yang bisa di ambil. Perkembangan terakhir, beberapa klub besar sepak bola seperti AC Milan, Real Madrid, Barcelona, MU, Arsenal, Chelsea, Juventus, Inter Milan, Liverpool mulai melebarkan ke luar negeri, terutama negeri yang dipandang menguntungkan (Cina, Jepang).

Kalau anda pernah mengunjungi website resmi AC Milan, anda pasti akan sempat memperhatikan di halaman awal, di sana terdapat pilihan “Bahasa Indonesia”, selain bahasa Inggris, Bahasa Cina, Bahasa Arab, Bahasa Italia (tentu saja!!), kok tidak ada bahasa tubuh ya? Aneh deh, diskriminasi itu!! Latar belakang AC Milan memberikan layanan bahasa Indonesia di website resminya adalah karena mereka ingin lebih melayani konsumennya dengan lebih baik, dan menunjukan bahwa para supporter itu sangat berarti bagi mereka. Lalu kenapa Indonesia? Terkait ini, AC Milan pernah menyatakan bahwa sebagian besar pengguna facebook yang menyukai laman AC Milan di Facebook adalah orang Indonesia!! Karena itulah AC Milan menambahkan pilihan Bahasa Indonesia dalam website resminya. biar lebih dekat begitu maksudnya..

It’s MARKETING after all…

kalau kita perhatikan AC Milan termasuk tim yang “rajin” bertamu ke Indonesia, mulai dari mengirim utusannya (Franco Baresi, Stefano Eranio) sampai menggelar pertandingan amal. Terakhir, pertandingan persahabatan antara para veteran AC Milan dengan Tim Nasional Indonesia. Berapa skornya ya? *berlagak lupa*….

Nasi Pecel

Nasi Pecel

Siapa yang tidak kenal dengan makanan yang satu ini. Nasi diberi sayuran, bumbu sambal kacang pedas, peyek kacang atau teri, di beberapa daerah juga ditambah ‘tumpang’ (sayuran dengan bahan dasar tempe, tempe bosok tepatnya!) dan tak lupa beberapa jenis lauk pauknya seperti tempe goreng atau tahu goreng. Terus terang saya nulis deskripsi nasi pecel tadi dalam kondisi bersimbah…bersimbah air liur, ngiler soalnya.
Sebetulnya nasi pecel ini merupakan makanan dari desa, tapi di kota tempat tinggal saya, kota Malang, nasi pecel merupakan salah satu makanan favorit masyarakatnya, sudah terkenal dan bermacam-macam pula. Ya mungkin karena Malang termasuk dalam kategori ‘kota’ ya, akhirnya Malang jadi sasaran para warga pendatang dalam mencari penghidupan, salah satu caranya ya jualan nasi pecel, bisa jadi begitu..

Nah makna nasi pecel bermacam-macam itu ada beberapa definisi. Pertama, bermacam-macam itu bisa berarti bermacam-macam nama nasi pecelnya, mulai nasi pecel Tulungagung, nasi pecel Madiun, nasi pecel Kediri, nasi pecel Ngawi, nasi pecel Nganjuk, nasi pecel Jombang, nasi Pecel Kertosono, nasi pecel Blitar, nasi pecel Madura (ada tah?), itupun hanya beberapa jenis nasi pecel yang saya tahu.

Selebihnya monggo diputeri sendiri saja Indonesia ini, pasti anda akan menemukan nama nasi pecel baru, tapi ndak perlu sampai keliling luar pulau Jawa, bisa-bisa mubazir, soalnya setahu saya nasi pecel asalnya dari Jawa, khususnya Jawa Timur, pun setahu saya kok ndak ada yang namanya pecel jayapura, pecel palangkaraya ya? Terus kalau sampeyan tanya saya tentang perbedaan dari masing-masing nama nasi pecel itu tadi, maka dengan sangat menyesal saya harus mengatakan bahwa saya ndak tau babar blas. Karena komponen nasi pecel yg penting buat saya dan harus ada itu ya cuma, sayuran, sambel pecelnya (ya pastilah), dan peyeknya, sementara kalau nasi ya sudah otomatislah, ndak usah dihitung, tapi harus ada. Masalah sayurnya pake sayur apa, saya ndak pernah menuntut jenis tertentu, yang penting ada sayurannya.

Ada sih seorang teman yang bilang ke saya, kalau nasi pecel dari daerah x itu ada lamtoronya, daerah y ada cambahnya, sementara daerah z ada irisan timunnya. Bla bla bla, dst dst… Buat saya sih sederhana saja, pokoknya ketika nasi sudah masuk mulut dan rasa sambel pecelnya terasa pas, tidak terasa aneh, ya sudah, lanjutken makannya, saya tidak ambil pusing dengan jenis pecelnya, isinya apa saja, dari mana, pokoknya hajar saja bleh….

Kedua, bermacam-macam itu juga berarti bermacam-macam pula bahan sayuran yang dicampur dalam nasi pecel tersebut. Ada yang memakai daun pepaya, daun singkong, daun seledri, gubis, cambah dan bahkan ontong pisang juga tidak ketinggalan untuk ikut di campur.

Ketiga, bermacam-macam itu juga berarti bermacam-macam pula jenis penjual nasi pecel itu, mulai dari penjual warung sederhana sampai restoran berbintang pun bisa menjual nasi pecel. Maklum, bahan sambel pecelnya mudah dibuat, bahkan ibu atau istri kita pun bisa membuat sendiri, dan kalau masih pingin lbh praktis lagi, kita bisa beli sambel pecelnya saja yang sudah tersedia di toko-toko…

Nah bicara mudahnya kita membuat nasi pecel sendiri, ada sesuatu yang menarik nih..
Kalau saya amati, walaupun membuat nasi pecel sendiri itu mudah, tapi ternyata masih banyak juga orang yang memilih untuk langsung beli nasi pecel ke warung.

Fenomena ini muncul bisa disebabkan beberapa sebab, dua diantaranya:
Pertama, mungkin orang tersebut sangat sibuk, setiap detik baginya sangat berharga, punya sedikit waktu luang. Jadi tinimbang membuat nasi pecel sendiri, lebih baik beli nasi pecelnya langsung. Bisa juga mungkin istrinya juga bekerja mencari nafkah, karena sibuk bekerja, sang istri semakin punya sedikit waktu luang dalam menyiapkan sarapan keluarga. Situasi seperti ini pula yang menuntut kepraktisan dlm urusan dapur.

Kedua, mungkin bisa jadi seseorang lebih memilih membeli langsung ke warung atau makan langsung di warung nasi pecel karena suasana di warung nasi pecel itu yang khas. Sebagaimana jika kita ke McD, pizza hut, KFC, suasana tempatnya kan khas ya.

Saya pun juga seperti itu, saya lebih sreg dengan nasi pecel yang dijual di pinggir jalan, di warung sederhana, temboknya dari anyaman bambu. Menu makanannya hanya satu, ya nasi pecel itu tadi, sedangkan minumannya standar saja yakni teh panas atau hangat, agak kerenan sedikit ya, jeruk anget. Nasi pecel itu pun disajikan tidak dengan piring, tapi dengan daun pisang (bahasa jawa: pincuk).

Saya kadang gak yakin ketika pecel itu di sajikan dengan piring lebar, nasinya sedikit, krupuk peyeknya sak upil, satu lagi, hadew, rasanya ada yang aneh, nggak sreglah. Ya walaupun bicara ‘taste’ mungkin tidak ada perbedaan, artinya rasanya ya boleh jadi samalah, antara yang pecel pincuk sama pecel versi restoran. Tapi jika kita bicara nuansa, atau sesuatu yang sifatnya lebih abstrak, sesuatu yang hanya bisa di nilai dari perasaan kita, feeling kita, pasti jelas berbeda, khususnya buat saya pribadi.

Dan feeling itu pun tidak hanya di nasi pecel saja, tapi merembet ke nasi yang lain juga. seperti nasi gudeg Jogja dan nasi liwet khas Solo. Buat saya ya itu tadi deh, lebih mantap kalau makan nasi Gudeg atau Liwet itu sambil lesehan, di trotoar pinggir jalan, suasananya khas soalnya dan insya Allah lebih murah hehe…

Indahnya Berbagi (Marketing)

Indahnya berbagi..

Teman-teman, saya mau bertanya nih? Pernah nggak mengunjungi detik.com? pasti pernah dong. Saya yakin itu. Pernah mencoba download majalah Detik? Dan kalau pernah, untuk mendapatkan majalah Detik tersebut, apakah kita harus mengeluarkan sejumlah uang? Pasti jawabannya nggak, sepeserpun nggak keluar duit deh, alias Gratis. Dan keGRATISan inilah yang akan saya bahas kali ini. Soalnya menarik sih buat saya…

Sekedar selingan, Detik.com adalah sebuah portal berita digital dari Indonesia. Ya sederhananya semacam “Jawa Pos”, bedanya Detik.com berformat digital, tidak berbentuk fisik, sedangkan Jawa Pos ada bentuk fisiknya. So kalau teman-teman bertanya pada para penjual koran di perempatan jalan, di pinggir jalan (ya pastilah, masak di tengah jalan??), “Mas/dek, ada Koran detik nggak?” maka saya yakin dengan seyakin-yakinnya (haqqul yaqqin) ekspresi wajah yang dibuat oleh si penjual Koran tersebut adalah ekspresi kebingungan! Itu yang pertama, nah yang kedua, kemungkinan besar si penjual Koran itu akan menjawab begini “Koran Detik? Apaan tuh? Dari awal jualan Koran, gak pernah tuh denger Koran Detik?”…

Ok kembali ke soal Gratisnya Majalah Detik tadi, mari kita pikirkan bersama-sama, pasti anda sepakat dengan saya bahwa adalah wajar bagi sebuah perusahaan dalam menawarkan sebuah produk, mereka juga men-charge kita dengan sebuah harga. “Ada Uang, ada Barang”. Model pertukaran/transaksi ini dipercaya sudah berjalan setua umur manusia itu sendiri, dimulai dengan barter hingga pertukaran menggunakan alat transaksi berupa uang. Dan kita semua sudah terbiasa dengan model ini. Nah anehnya, untuk mendapatkan Majalah Detik, kita tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun, alias FREE, dan kualitas Majalah Detik juga bagus juga, ulasannya tajam juga…

Ternyata fenomena ini sudah jamak dilakukan dibeberapa tahun terakhir ini, artinya konsumen mendapatkan sebuah produk dengan FREE tapi kualitas barangnya PREMIUM. Pernah memakai Avast? Avira Antivir Personal? Comodo Firewall? Punya akun Google? Yahoo? Twitter? Facebook? Beberapa teman pasti punya. dan itu free semua ya.

Beberapa latar belakang munculnya Produk FREE-MIUM itu adalah…

Pertama, Produk FREE tapi PREMIUM itu hanya dipakai sebuah pancingan pada kita, sebagai konsumen mereka. Memancing atau menganjurkan kita untuk mau membeli dan memakai produk mereka yang kualitasnya lebih baik, better dan itu berbayar. Mari kita lihat ke avast.com atau avira.com, di halaman awal mereka terdapat 3 level produk software antivirus mereka, selalu di mulai dari tingkat personal/Free, lalu beranjak ke tingkat Internet security. Nah di tingkat Internet security ini, ada beberapa fitur tambahan dan fitur tersebut tidak ada di tingkat personal, seperti spam filter, antipishing, antispyware, dan seterusnya. Ketika seorang konsumen merasa puas dengan produk FREEMIUM tersebut, mereka percaya bahwa kualitasnya bagus, maka akan lebih mudah bagi perusahaan tersebut untuk menawarkan produk lainnya.

Kedua, berfungsi untuk meningkatkan loyalitas konsumennya. Contohnya saya sendiri, saya termasuk pengunjung setia Detik.com karena selain beritanya cepat ter up-date, juga karena saya bisa mendapatkan majalah Detik.com secara gratis dan ulasannya juga tidak kalah bagus juga dengan majalah/Koran-koran bebayar lainnya.

So boleh jadi produk yang sifatnya FREEMIUM (FREE tapi PREMIUM) itu bukanlah murni produk, dalam arti hanya berfungsi bagi konsumen, dikonsumsi, dihabiskan, tapi punya fungsi promosi juga. Beberapa ahli pemasaran mengatakan bahwa Produk itu sendiri sudah merupakan alat promosi yang ampuh bagi perusahaan kepada konsumennya. Ya iya juga ya… 🙂

AC Milan case study (A Lesson)

Menarik sekali membaca berita olah raga beberapa hari ini. Terutama sepakbola Liga Champion Eropa . Bagaimana tim favorit saya, AC Milan di buat kelabakan oleh Arsenal ketika di jamu di kandang mereka. Di Emirat Stadium, Arsenal mampu memasukkan 3 goal tanpa balas, dan semua gol terjadi di babak pertama. Harus saya akui sejak awal menjelang pertandingan leg ke-2, Saya pribadi sudah yakin bahwa AC Milan akan kebobolan, pun yakin juga pasti kalah, tidak masalah harus kalah, yang penting lolos. Tapi tidak dengan skor mencolok seperti itu!

Anda bisa bayangkan sendiri, bagaimana tim favorit anda harus menderita kebobolan 3-0 di leg ke-2, setelah mampu menang 4-0 di leg ke-1, dan hampir bisa menjadi 4-0 jika saja tendangan cukit Van Persie tidak bisa di tahan oleh Abbiati di babak ke 2. Betapa akan terasa seperti kiamat saja pada malam itu?? Ketika goal pertama Arsenal   yang terjadi di menit-menit awal babak pertama, rasanya seperti, mmm..istilah gaulnya itu …“Makjleb”. Begitu AC Milan Kemasukan lagi, saya pun makjleb lagi. Kemasukan lagi untuk gol yang ke 3, tambah Jleb lagi + susah nafas + mengelus dada!!…

Analisa sederhana saya tentang penyebab “off”-nya permainan Milan di babak 1 mungkin…

Formasi yang dipakai Allegri tidak bisa membendung kolektifitas Arsenal. Dan allegri memang “terpaksa” menggunakan formasi itu karena banyaknya gelandang Milan yang cedera. Dengan formasi 4-3-3nya Milan vs 4-5-1nya Arsenal, yang berarti 3 gelandang Milan melawan 5 gelandang Arsenal. Arsenal bisa dengan leluasa menekan gelandang Milan dengan ketat, dan membuat Milan sering kehilangan bola.

Baru di babak ke 2, ketika salah satu penyerang Milan diganti dengan gelandang Aquilani, Milan mulai bisa mengimbangi dan bahkan bisa membuat Arsenal gentian kedodoran menjaga daerah pertahanannya. Selama di babak ke 2 pula, saya terus berteriak lantang, “MILAN! KAMU BISAA!! AYO BUAT GOL! JANGAN SAMPAI KEBOBOLAN!! (tapi dalam hati, maklum dini hari)

Ketika jeda pertandingan, saya sempat punya pikiran, Ada tidak ya, di antara teman Milanisti yang karena begitu inginnya AC Milan lolos, sampai dibela-belain sholat tahajjud? Hehehe, sambil berdoa, “Ya Allah, jika Milan tidak lolos, maka loloskanlah mereka ke babak selanjutnya ya Rob (suatu bentuk do’a yang MEMAKSA), karena kalau tidak kepadaMu ya Rob, hamba harus meminta kepada siapa lagi? PSSI?  -_- *sambil menengadahkan tangan ke atas*….

Akhirnya saya bisa bernafas lega dan berangkat ke kantor dengan semangat tinggi ketika peluit panjang ditiup, sebagai tanda bahwa pertandingan LC leg ke-2 sudah berakhir, sekaligus memastikan AC Milan, tim kesayangan saya lolos ke babak selanjutnya :D. Anda boleh percaya boleh tidak, begitu AC Milan dipastikan lolos, mendadak feeling saya terasa sangat tenang, pundak saya rasanya ringan sekali. Seperti tanpa beban, tanpa masalah, mantap sekali kaki ini melangkah. Dan saya pun tebar senyuman kepada semua orang yang menyapa saya J, melihat dunia itu terasa terang benderang…

Begitu juga jika ternyata Milan gagal lolos, artinya yang lolos adalah Arsenal (entah bagaimana cara dan hasilnya, lewat perpanjangan waktu, adu penalty, atau pertandingan dramatis), saya bisa bayangkan betapa buramnya dunia ini, rasanya malas untuk berangkat ke kantor, malas buka internet, malas baca Koran. Belum lagi kita harus siap menjadi bahan tertawaan teman-teman kita sehari penuh gara-garanya Milan gagal lolos. Saya bisa bayangkan jika Milan benar-benar gagal lolos, maka pekerjaan saya di kantor bisa terbengkalai, karena saya “terpaksa” sibuk membalas komentar yang ada di chat grup Whatsapp , di Facebook , mungkin juga di Twitter , karena saya “tidak terima” tim kesayangan saya jadi bahan tertawaan. Pokoknya…” Senggol, Bacok!!

Saya sempat membaca berita di internet, yang mengatakan bahwa ada seorang anak yang harus sampai pindah sekolah karena dia tidak tahan ejekan teman-teman sekolahnya tentang kekalahan beruntun tim kesayangan anak itu. WOW, sampai dibela-belain pindah sekolah ya, betul-betul supporter sejati  🙂

Apa yang saya ceritakan di atas bisa jadi mewakili bagaimana perasaan beberapa kawan tentang tim sepakbola kesayangannya. Ya memang tidak semuanya sama persis perilakunya, mungkin ada beberapa yang menganggap sama, tapi ada juga yang menganggap cerita di atas terlalu di lebih-lebihkan. Tapi saya yakin bahwa pada dasarnya semua supporter punya perilaku yang sama, jika tim favoritnya menang, supporter senang, tapi jika tim favoritnya kalah, supporter pun sedih.

Saya pun bertanya-tanya dalam hati, seandainya konsumer sebuah merek produk sampai bersikap seperti supporter sebuah tim atau klub sepak bola seperti apa yang saya ceritakan di atas, betapa beruntungnya merek itu ya? Punya consumer yang mau membela merek tersebut, mendukung merek agar tetap menjadi nomor 1, jika merek tersebut membuat kesalahan, maka konsumen itu bersedia memaafkannya dan menunggu dengan sabar dan memendam kekecewaannya ketika merek itu sedang berjuang menebus kesalahannya. Sebuah loyalitas tanpa batas. WOW..
*ini merupakan ujicoba via wordmobi, wordpress E63

Change or Die: Relate, Repeat, Reframe

Seringkali kita merasa ada yang salah dengan kehidupan kita, kita merasa ada yang tidak beres dengan diri kita. Dan pada saat itu, kita sadar bahwa satu-satunya cara adalah kita harus berubah. Karena jika tidak segera berubah, maka bisa dipastikan kondisi kita akan menjadi semakin buruk. Dan saya yakin kebanyakan orang pernah atau sedang mengalami hal ini. Berubah, menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Contoh sederhana tentang keinginan berubah yang muncul dalam diri adalah: yang awalnya kita perokok berat, lalu kita sadar untuk harus berubah dengan berhenti merokok karena merokok merusak kesehatan

“ada joke tentang merokok, some says, smooking will kill u slowly|smokers: so? What’s the big deal? I don’t wanna die quickly too”

Contoh lainnya, seringkali diri kita merasa galau, bimbang, merasa diri kita tidak ada benarnya, selalu salah, minder, berpikiran negatif, dan kita tidak punya satupun kelebihan dalam diri kita yang bisa kita banggakan, dianggap invisible/tidak terlihat oleh orang-orang sekitar kita, dianggap useless. Lalu kita ingin berubah menjadi, ya minimal sedikit lebih positif, lebih bisa mensyukuri, lebih bisa menyadari bahwa kita punya “something” yang bisa kita tawarkan kepada dunia, bahwa kita useful, kita bisa berguna bagi orang lain.
Contoh lainnya, seperti ingin menjadi pengusaha/punya pendapatan tambahan di luar pekerjaan utama kita karena terdesak oleh kondisi keuangan keluarga kita. Karena dari apa yang saya lihat dan pahami, kita sangat yakin bahwa dengan punya usaha sendiri, peluang menjadi kaya itu menjadi lebih jelas dan tinggi. Lalu mulailah kita bawa barang dagangan kita ke kantor, kita tawarkan ke teman kantor, atau bagi kita yang punya Blackberry, kita bisa tawarkan ke teman grup chat kita, dengan hanya bermodal foto saja.
kesemua itu adalah contoh sederhana dari beberapa keinginan berubah dan terjadinya perubahan. Dan itu bagus, karena begitu kita menyadari bahwa perlu berubah, kita langsung beraksi dengan berubah. Karena ada juga beberapa dari kita yang sadar harus berubah, tapi tidak juga segera berubah. La ini yang repot.
Dan yang sering pula kita jumpai ada beberapa dari kenalan kita yang telah berubah, tapi 1-2 bulan kembali ke kebiasaaan/pola pikir lamanya, atau bahkan kita sendiri. Kita sudah berhenti merokok 1-2 bulan, tapi begitu sampai pada bulan ke 3, kita menjadi ahli hisab lagi (hisab rokok maksudnya). Yang selama beberapa hari ini, kita sudah terbebas dari virus galau, eh tiba-tiba kita merasa galau lagi. Yang sudah mulai menjual baju di kantor selama satu bulan, tiba-tiba berhenti jualan, karena merasa tidak menguntungkan. Intinya apa? Kenapa bisa sampai gagal dalam berubah? Jawabannya bisa jadi bukan karena kita tidak ingin berubah atau tidak bisa berubah, tetapi kita tidak memahami perubahan atau punya cara yang tepat untuk berubah
Lalu bagaimana caranya agar perubahan yang kita lakukan untuk diri kita sendiri bisa berjalan dengan baik? Itulah tujuan saya menulis artikel ini, saya ingin berbagi kepada teman-teman, bagaimana caranya agar kita bisa berubah dengan baik.
Menurut Alan Deutschman, penulis buku CHANGE OR DIE, The Three Keys to Change at Work and in Life. Ada tiga langkah sederhana agar kehidupan kita bisa berubah dengan baik. Sebelum saya lanjutkan, mohon teman-teman pembaca untuk berhati-hati dalam memahami kata-kata “sederhana”, karena sebetulnya tiga langkah tersebut tidak bisa dilakukan dengan sederhana, sesederhana memahami dan membacanya.
Lanjut…
Langkah yang PERTAMA adalah RELATE
Maksudnya adalah kita membentuk sebuah hubungan emosional baru dengan seseorang atau komunitas yang menginspirasi dan mempertahankan harapan (sustain hope). Jika kita menghadapi situasi atau menganggap diri kita hopeless, kita sebaiknya memerlukan pengaruh dari seseorang atau kelompok/komunitas yang mampu mengembalikan harapan kita—membuat diri kita percaya (convince us)bahwa kita bisa berubah dan bahkan mereka/dia berharap kita akan berubah. Kalau ingin lebih positif, bebas dari galau, ikutlah seminar motivasi, follow akun twitter para motivator, inspirator (apaun namanya, yang mampu memotivasi dan menginspirasi kita). Kalau ingin sukses berbisnis, bergabunglah dengan komunitas para pebisnis juga. Ingin menjadi penulis yang baik, bergabunglah dengan kelompok-kelompok penulis. Intinya adalah berhubunganlah dengan pihak-pihak lain yang satu ide dengan kita, itu akan mempermudah kita dalam berubah. Perubahan berbasis kelompok/dibantu orang lain akan lebih mudah dilakukan dibandingkan perubahan secara individu.
Langkah yang KEDUA, REPEAT
Hubungan baru tersebut akan membantu kita untuk belajar, praktek, dan menguasai kebiasaan-kebiasaan dan kemampuan baru yang akan kita butuhkan. Dibutuhkan begitu banyak pengulangan berkali-kali sebelum sebuah bentuk perilaku dan pola pikir baru menjadi otomatis dan terkesan natural—sampai kita melakukan cara baru tersebut tanpa pakai mikir segala. Dan perubahan akan sangat terbantu untuk mempunyai seorang guru, pelatih, atau mentor yang member kita panduan, dorongan, dan arahan bagi kita. It’s all about training :D….
Dengan membaca tweet-tweet para motivator yang kita ikuti, kita pun akan belajar memotivasi diri, dan itu tidak cukup dilakukan hanya sekali, harus berkali-kali sampai kita merasa telah menjadi lebih positif. Dengan bergabung dalam kelompok pengusaha bisnis, kita akan diberi arahan bagaimana cara berbisnis, dan jika kita lagi drop, down, maka teman-teman komunitas akan mendorong kita untuk berdiri lagi, kan asyik tuh ya? …
Begitu juga ketika kita bergabung dalam ke dalam kelompok penulis/blogger, kita akan bisa belajar berbagai macam hal yang berhubungan dengan blog.
Langkah KETIGA, REFRAME
Hubungan baru tersebut akan membantu kita mempelajari cara berpikir baru tentang situasi dan kehidupan kita. Endingnya adalah kita mampu melihat dunia dari sisi yang baru sama sekali. Contohnya, seringkali jika kita ingin berbisnis, membuka usaha, kita kesulitan memilih akan bergerak di bidang apa. Hingga situasinya menjadi gridlock, macet, kita tidak bisa segera beraksi karena mbulet mau usaha apa. Namun teman-teman komunitas pengusaha menyarankan kita untuk buka usaha di bidang makanan saja, alasannnya? Setiap orang pasti butuh makan. Atau kita sulit untuk menulis artikel, teman-teman penulis menyarankan tulis saja apa yang ada dalam benak kepala kita. Sudut pandang yang menarik bukan? dan mungkin baru bagi sebagian dari kita.

Semoga bermanfaat ya 🙂

Marketing in Islam?

ya topik obrolan saya kali ini adalah Marketing di dalam agama, dalam hal ini, agama saya, Islam. tentunya teman-teman pembaca semua bertanya-tanya, ini ngapain ini, mo jadi ustad ya? mubaligh? ato kyai?.. ah ndak juga hehehe. alasan saya mengambil tema ini adalah karena berdasarkan pengamatan saya, ada semacam dikotomi/sekulerisme/pemisahan. terutama pemisahan bisnis-agama/tuhan, bahwa bisnis itu tidak bisa disatukan dengan agama, tidak ada tempat bagi Tuhan dalam bisnis. banyak orang bilang kalo bisnis, ya bisnis. bisnis jangan dihubungkan dengan agama/Tuhan. ndak laku lu cui!! dan ada juga yang mengatakan bahwa, mas, cari yang haram aja sudah susah, la apa lagi yang halal mas?? ato kalau di daerah tempat tinggal saya, terkenal omongan ini, saiki jaman edan, lek ora melu edan, ora keduman!..nah loe.. so kalo semua nyemplung sumur, sampeyan ikut2an nyemplung juga? mati bareng gitu??

begitu juga dalam Marketing, pemahaman kita selama ini kalau bicara Islam pasti nyambungnya ke arah vertikal, hubungan dengan Allah SWT, seperti sholat, puasa, haji, dan lain sebagainya. Sementara hubungan antar sesama manusia, kebanyakan kita (termasuk saya) banyak yang belum paham. dan sayangnya seringkali kita terburu-buru menjustifikasi bahwa islam itu kolot, kuno, tidak up to date, hanya karena ketidakpahaman tersebut, tanpa ada usaha untuk menelaah lebih jauh.

padahal kalau kita kaji bersama, Marketing itu sangat terlihat jelas di dalam Islam. salah satu contoh, kalau kita perhatikan dengan seksama, para calon nabi itu hampir atau kalau tidak boleh dikatakan selalu menjadi seorang penggembala hewan ternak. oukee…terus? apa hubungannya dengan Marketing? kalau menurut saya pribadi ya ada dong. karena penggembala punya sifat ngemong, atau minimal belajar memahami kondisi hewan ternaknya. kapan butuh makan, kapan butuh minum, kapan harus pulang masuk kandang. dan kemampuan ngemong dari pekerjaan menggembalakan hewan ternak ini, akan berguna ketika masa tugas kenabian mereka berlangsung. dan kemampuan memahami inilah yang sesuai dengan mind setnya Marketing. dalam Marketing kita harus mampu memahami apa sih yang menjadi kebutuhan konsumen kita itu, lalu berdasarkan pemahaman tersebut, kita berusaha untuk memenuhinya.

contoh lainnya, Muhammad SAW. tak banyak yang harus saya tulis di sini. karena saya yakin teman-teman pembaca, yang Muslim, insya Allah paham semua dan saya juga tidak sedang bercerita tentang sejarah perjalanan hidup beliau.

Ok, kembali topik bahasan kita tentang ada gk sih Marketing dalam Islam. di dalam Marketing, kita mengenal yang namanya istilah brand atau merek. dan Muhammad SAW inilah contoh branding, khususnya personal branding yang sukses dan everlasting, saking suksesnya sampai ada seorang penulis buku tentang 100 orang paling berpengaruh di dunia (kalau ndak salah begitu judulnya, lupa lupa ingat sih), Michael H. Hart (sayangnya dalam penjelasan Wikipedia, Michael H. Hart dianggap penulis kontroversial), menempatkan Muhammad SAW di posisi pertama dari 100 orang tersebut (saya dulu punya bukunya, pas masih Mts, ndak tahu sekarang kemana 😦 ).

kembali ke branding tadi, Muhammad SAW adalah contoh personal branding yang kuat, sukses dengan gelar Al-Aminnya. Al-Amin berarti kejujuran, yang berarti Muhammad SAW dikenal karena keJUJURannya. banyak kisah menarik tentang efek positif sifat kejujuran beliau. salah satunya adalah kesuksesan beliau berdagang dan mampu menghasilkan laba berlipat-lipat. dan konon berdasarkan penjelasan Aa’ Gym (Abdullah Gimnastiar) ketika beliau menikahi Siti Khadijah, mas kawin beliau hanya 40 saja, maksudnya 40 unta betina hamil (kalau di rupiahkan mencapai sekitar 4 M). dari mana beliau dapat uang sebanyak itu kalau bukan kemampuan/kecerdasan beliau dalam berdagang dan ditunjang kejujuran beliau? beda dengan jaman sekarang ya, paling banter rata-rata kalau menikah, mas kawinnya Rp. 200.700 (soalnya nikahnya pas tahun 2007) atau seperangkat alat sholat, itu masih gak papa. la kalau seperangkat alat mandiatau alat tulis atau sepasang dongkrak bukan cincin nikah kan ya ndak lucu…

dan personal branding itu juga merupakan salah satu aspek dalam marketing. saya kira personal branding ini erat kaitannya dengan reputasi/keterkenalan. jika reputasi kita negatif, maka akan berpengaruh pada personal branding kita. begitu juga sebaliknya. dan ini tidak boleh dianggap remeh dalam Marketing, atau minimal dalam pekerjaan kita. sekali kita dipandang punya reputasi negatif di mata teman kerja/konsumen, semakin negatif personal brand kita.dan untuk mengubahnya itu syusyahhnya ampun ampun…

so kesimpulannya Marketing ternyata ada juga ya dalam Islam. tapi memang apa yang saya tulis ini, secara keabsahan, meragukan. selain itu, saya juga tidak melakukan studi tentang Nabi/Rosul secara mendalam. murni hanya cuplikan-cuplikan dari beberapa buku saja. untuk itu, agar bisa menambah pemahaman teman-teman pembaca, saya sarankan teman-teman untuk membaca bukunya Moch. Syafi’i Antonio “Muhammad SAW: Super Leader, Super Manager”. sebetulnya ada lagi sih, buku tentang Marketingnya Muhammad SAW, tapi saya lupa penulisnya siapa, nanti saya apdet lagi. sementara ini dulu ya 🙂

buat teman-teman pembaca yang ingin berbagi pengetahuan dan pendapat, silahkan, monggo kerso, selama masih dalam koridor etika dan respek ya. itung-itung tambah silaturahimnya.

selamat menikmati hari, semoga pekerjaannya lancar, tambah berkah dan diridhoi Allah SWT atas segal usahanya. amin.

Kuis Manajemen Pemasaran, and it’s all ’bout PLC guys!!

1. dalam PLC (Product Life Cycle) terdapat empat (4) tahapan, yaitu: Introduction, Growth, Maturity, Decline. tugas anda:

  • jelaskan situasi (minimal tentang kompetitor dan perilaku konsumen) yang terjadi pada masing2 tahapan tersebut
  • jelaskan strategi  (minimal strategi produk, harga, dan promosinya) yang dilakukan oleh perusahaan ketika berada di ke empat (4) tahap tersebut

2. Gambarkan grafik PLC yang baik/ideal menurut anda! dan jelaskan alasannya!

3. PLC memang memberikan sejumlah kontribusi bagi para manajer pemasaran. namun di lain pihak, PLC ternyata juga mempunyai sejumlah keterbatasan. tolong sebut dan jelaskan kontribusi dan keterbatasan PLC itu!

-:( met holiday ya, wish u all the best, success ya!! ):-

Product: Facebook vs Twitter? Sesuatu banget…

Ya, tulisan di atas merupakan tulisan yang saya pilih sebagai judul celoteh saya kali ini :). So what gitu lohh? Bukankah facebook itu sudah banyak di bahas bos? Hari gini, nggak tau facebook? Ya ampyunnn… :(, emang dari planet mana mas bro?? ya sih, kalau saya pikir2 juga, ngapain saya mbahas sesuatu yang teman-teman sudah pada tahu semua? But, never mind,gak papalah, itung-itung ini juga sebagai publikasi gratis buat kedua social networking media itu hehehe…

Kenapa sih saya bahas ini? Karena ini berangkat dari pengalaman saya pribadi. Harus saya akui bahwa saya termasuk orang yang telat, jadul, kagok (apapun istilah yang menyatakan bahwa orang itu ketinggalan tren :() untuk menyadari bahwa social networking media itu tidak hanya Facebook saja hehe. Selain Facebook, ada juga Twitter, NetLog, Foursquare, Delicious, Flickr, Friendster, LinkedIn, Myspace, masih banyak lainnya, dan yang terakhir ini, bagi anda yang sering googling, tentunya anda tahu dengan istilah…Google+ kan? Google+ adalah pemain baru di bidang social networking media yang digadang-gadang oleh pihak google sendiri, bertujuan untuk mengalahkan popularitas, kepemimpinan Facebook…

So begitulah situasinya, beberapa tahun terakhir saya termasuk orang yang setia dengan satu social networking media, Facebook saja. Setiap hari, apa yang saya lakukan hanyalah update status, memberi komentar status teman, membaca status orang, nge-like status orang. Every single day, that’s what I do bro, and eventually, I’m getting bored to do that kind of routine activity. Semakin lama saya semakin sadar bahwa apa yang saya lakukan itu useless buat saya, tidak ada nilai tambah buat saya pribadi, hanya buang-buang waktu saja.

Ya memang sih, bagi sebagian teman punya pendapat berbeda, “lo bos, facebook itu juga bisa kita pakai sebagai media promosi yang efektif lo bosss, bisa buat jualan juga, bisa buat cari jodoh, bisa baca artikel-artikel dari orang terkenal loh bos”, nah kalau anda bilang seperti itu, saya tidak bisa lebih setuju lagi dengan pendapat anda, can’t agree more than that ya :), jujur saja, saya termasuk pelanggan artikel-artikelnya pak Rhenald Kasali, tulisan-tulisan beliau yang ada di beberapa media koran pasti akan di posting di Facebook beberapa hari setelahnya, dan of course, GRATIS, Alhamdulillah, lumayan buat tambah ilmu, dan nanti bisa di share ke teman-teman sekalian. Tapi buat saya pribadi, intensitas antara useful dengan uselessnya masih kalah jauh, artinya masih lebih banyak uselessnya daripada usefulnya. Apa lagi kalau ada friend yang “nyampah”, wadah males banget :(.

Lalu saya memakai Twitter di E63 saya. Awalnya saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan dengan aplikasi Twitter ini. Tapi setelah saya coba beberapa hari, saya langsung jatuh cinta. Lo kok? iya, karena dengan Twitter, saya bisa bebas mengikuti akun-akun yang sesuai dengan selera saya, beberapa akun orang dan produk terkenal, (Yuswohady, Gus Mus, Ahmad Dani, Sudjiwo Sutejo, Mario Teguh, Ciputra, atau Honda, Yamaha, Nokia, dll) dan asyiknya lagi, beliau-beliau tersebut bisa dibilang aktif sharing di twitter, ketimbang di social networking media lainnya dan alhamdulillahnya, itu tidak dibatasi (kalau di Facebook, maksimal 4000 ya?). Dengan Twitter juga, saya bisa update informasi yang bisa menunjang pekerjaan saya sebagai seorang dosen. Dan manfaat inilah yang saya kira menjadi the ultimate Twitter function, karena saya bisa menyandingkan antara realitas, kenyataan yang terjadi dengan teori yang ada di buku, so thanks a lot Twitter 🙂

Lalu apa kesimpulannya? Kesimpulannya adalah bahwa konsumen itu pada dasarnya berbeda-beda sifatnya. Karena berbeda, maka bisa dipastikan kebutuhan, keinginan, selera, preferensinya pun berbeda. Saya berbeda dengan anda, jelas pastinya. Karena di saat orang-orang (anda juga mungkin) cenderung memilih social networking media tertentu, saya malah memilih yang lain. Mengapa? Karena media tersebut bisa memenuhi kebutuhan saya. Dan itulah yang dalam Marketing Management disebut sebagai PRODUCT. produk itu apa? Adalah Segala sesuatu yang bisa memenuhi kebutuhan konsumen. Bagi anda, Facebook adalah sebuah produk karena bisa memenuhi kebutuhan social anda, tapi tidak bagi saya, buat saya Facebook bukan produk, karena Facebook tidak bisa memenuhi kebutuhan saya…