Namanya Mulyono…

Namanya Mulyono, tetapi orang lebih suka memanggilnya Cak Manteb, sebagai mana tulisan yg ada di gerobak dorong, tempat dia berjualan nasi goreng keliling kampung dan perumahan dekat rumah. Cak Manteb selalu berjualan nasi goreng di sekitar perumahan dan kampung tempat saya tinggal, berangkat dari sore dan pulang menjelang tengah malam. Selalu begitu. Dan mungkin skrg, saya akan menyebutnya dengan sebutan “beliau”, karena besarnya rasa hormat saya pada beliau, ya meskipun pekerjaannya hanya penjual nasi goreng keliling, tapi beliau telah mengajarkan hal yang penting kepada saya, mungkin lebih tepatnya mengingatkan kepada saya tentang sebuah prinsip dalam menjalani hidup ini.
Toh juga tak masalahkan engkau bekerja dimana, posisi apa, sebagai apa, yang penting niatmu bekerja apa,
“al’amalu bin niyyat”…
Pekerjaan dimulai dr niat, kalau dibalik, niat akan menentukan pekerjaan.
Ah Cak Manteb, betapa engkau ini bagaikan makhluk tuhan yang memang dengan sengaja Dia kirim untuk mengingatkanku…
==============
Malam itu, selepas isya’, saya mengendarai motor berkeliling mencari cak Manteb, tujuan saya pertama kali, jelas, masjid. Ya karena setiap maghrib dan isya’, beliau pasti berhenti di masjid perumahanku, sholat berjamaah, lalu keliling lagi, dan slalu begitu, every single day. Simpel sekali…
Dan benar saja, ternyata gerobak dorong cak Manteb masih di sana, Alhamdulillah pikirku, saya pun memesan nasi mawut 4 porsi pesanan ayah saya yg baru pulang dr luar kota, dan belum sempat makan.
Sambil menunggu, sayapun ngobrol dengan cak Manteb, temanya pun macam-macam, dan cenderung tidak runtut, loncat ke sana ke sini, wong niatnya ya cuma agar mencairkan suasana saja, jadi ya sak njeplake, dan dari obrolan tersebut, saya bisa mengetahui sedikit lbh jelas siapa sosok cak Manteb ini, seperti, ternyata beliau sudah berjualan nasi goreng keliling sdh lama, sejak tahun 90an, dan itupun di awalnya di Makassar, tempat mengadu nasibnya selama bertahun-tahun, sebelum pada tahun 2012, kembali ke Jawa, alasannya Simpel, “ora krasan”…
Menariknya adalah ternyata beliau juga menyekolahkan anaknya, putri tertuanya ke pondok pesantren terkenal Gontor putri. Wow, saya terkejut, untuk seukuran penjual nasi goreng keliling lo ya, sekaligus salut atas kegigihannya beliau yang sangat peduli pada pendidikan dan masa depan anaknya.
Sampai pada akhirnya, entah apa pertanyaan yg saya ajukan padanya, hingga beliau berkata…
“kulo niki lek gemrungsung malah mboten entuk yutro lo mas, lo saèstu, mangkane kulo mboten terlalu ngoyo mas, biasa mawon, lek pun wayahé bidal nggeh bidal, wayahé maghrib lan isya, nggeh teng masjid rumiyin, mantun niku lanjut maleh mubenge, lek kesel, lèrèn, lek sampun dalu, kok taseh katah sego kulo, nggeh ngetem teng celake toko beras mriku, pun ngoten mawon, niku mben dinten lo mas, tapi kok nggeh alhamdulillah, kok nggeh wonten mawon rejekine, kulo pun haqqul yaqin kalean Gusti Allah, rejeki kulo pun wonten, dadi kulo mboten kesusu, nggeh budal kerjo mawon”
Whaaattt?? Ya Allah ya robbi, makhlukmu yg satu ini, yang ada d depanku saat ini telah mengejutkanku dengan kata-katanya, kalimat itu terdengar biasa bagi orang lain, tapi tidak bagiku, dan aku yakin Engkaupun juga begitu, kalimat itu menunjukan betapa tawakkaltu’allallahnya sangat tinggi, betapa kepasrahan kepadaMu ya Rob sdh di level advance, sungguh mengagumkan, aku yakin para malaikatMu pun ikut terharu, begitu juga saya, andai saya tidak malu dianggap cengeng, sudah mberebes mili mata ini, berlinang air mata, nangis bombai…
Dunia ini telah beliau rendahkan serendah-rendahnya, beliau yang menguasai dunia, bukan sebaliknya…
Disaat kami semua dikuasai dunia fana ini, beliau dengan entengnya menguasainya…
di saat kebanyakan orang di muka bumi ini mengatakan bahwa dunia sudah berputar sangat cepat, dan karena kecepatannya itu kita harus menyesuaikan, ikut2an gerak cepat, agar jangan sampai tergilas olehnya, beliau dengan entengnya mengatakan “gak pate’en” kepada dunia ini..
Di saat kami semua tidak percaya dengan rejekiMu ya Rob, dia memilih percaya sembari berusaha…
Matur nuwun sanget ya Rob atas hikmahMu…

Iklan