Antara Ramadhan dan Hari Raya

Tak terasa sebentar lagi hari raya akan tiba. Sudah siap kuenya? Sudah goreng kopinya? Baju2 baru sudah disiapkan juga? Sandal? Sepatu? Celana? Hape? Atau yang lain mungkin? Kalau sudah, wow hebat sekali dong..
Tapi terus terang, saya betul2 bingung dengan pemahaman yang satu ini. Bahwa lebaran itu identik dengan barang “baru”, barang baru seperti apa? Ya seperti yang saya tulis di atas tadi.
Memang makna ‘idl Fitri itu adalah kembali ke fitri, suci, fitrah awal dimana manusia itu suci, baru, tanpa dosa, jek kinyis-kinyis, fresh from the oven. Namun semua itu tak ada hubungan sedikitpun dengan barang baru. Idl Fitri itu bicara tentang hal yang sifatnya abstrak,
Masalahnya sekarangkan banyak yang menganggap lebaran/idul fitri identik dengan barang baru itu tadi. Padahal kalau ditilik dari logika sederhanapun, kok rasanya gak mungkin ya, agama itu menyuruh kita untuk
Memakai barang baru di hari raya nanti, rasa-rasanya kok juga nggak ada ya hadist nabi yang menyerukan hal seperti itu, atau mungkin juga karena keterbatasan ilmu saya kali ya. Sayanya yang luput utk memastikannya..
Makanya saya sering bingung dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, lo kok nggak pake baju baru? Sandal barunya mana? Jam? Kok dari dulu bajunya sama saja sih? Kalau sudah gitu. Saya hanya diam saja, meskipun dalam hati nggerundel juga, “so? Itu masalah buat eloh??”, yang lebih repot lagi adalah ketika tidak mempunyai barang baru, sesuatu yang baru, lalu disimpulkan dengan semena-mena, “eh kok bajunya dari dulu sama terus sih? Miskin ya??” ya sallaaaammmm…
Yang Itu masih satu hal, hal lain yang membuat saya bingung adalah bertambah borosnya bugdet saya dalam bulan puasa ini ketimbang di bulan lainnya, terutama untuk konsumsi sehari-hari. Lo lak aneh a ya? Padahal kalau bulan puasa seharusnya kan bisa lbh irit, wong makannya cuma dua kali, beda dengan di hari2 biasa yang sampe 3 kali..
Dan setelah saya slikidi lbh teliti lagi, ternyata saya pake konsep “balas dendam” ketika berbuka. Dulu, di hari2 biasa, air putih itu sudah cukup bt saya, tp begitu masuk bulan ramadhan, ya ampun, nggak marem kalo ndak minum es. Kalau dulu makannya nasi sama tempe sambel bawang, wih pas puasa2 gini, minimal ayam goreng lah…
La kalau kayak gitu yo mesti ae.. Jebol bandare…Hadeww..
Puasa kan maknanya menahan kan ya? Tapi tidak cukup menahan dari yang membatalkan puasa, tapi juga menahan untuk tidak mengambil keputusan berdasarkan nafsu keinginan belaka juga, saya kira sih
So ketika kita memutuskan sesuatu hanya berdasarkan keinginan belaka, tanpa didasari logika, alasan yg jelas/ mungkin juga shar’i, maka kita perlu mempertanyakan lagi keputusan itu. Contoh simpelnya bisa teman2 baca lagi pengalaman saya pribadi di atas.
Nah puasa ini lo momentum kita untuk melatih hal tersebut.
“telat mas, sampeyan ngabari kok yo mepet riyoyo, posone wes kate buyar mas”
“ah ya ndak papa, biar telat asal selamat”…
….

Posted from WordPress for Android

Iklan

Indahnya Berbagi (Marketing)

Indahnya berbagi..

Teman-teman, saya mau bertanya nih? Pernah nggak mengunjungi detik.com? pasti pernah dong. Saya yakin itu. Pernah mencoba download majalah Detik? Dan kalau pernah, untuk mendapatkan majalah Detik tersebut, apakah kita harus mengeluarkan sejumlah uang? Pasti jawabannya nggak, sepeserpun nggak keluar duit deh, alias Gratis. Dan keGRATISan inilah yang akan saya bahas kali ini. Soalnya menarik sih buat saya…

Sekedar selingan, Detik.com adalah sebuah portal berita digital dari Indonesia. Ya sederhananya semacam “Jawa Pos”, bedanya Detik.com berformat digital, tidak berbentuk fisik, sedangkan Jawa Pos ada bentuk fisiknya. So kalau teman-teman bertanya pada para penjual koran di perempatan jalan, di pinggir jalan (ya pastilah, masak di tengah jalan??), “Mas/dek, ada Koran detik nggak?” maka saya yakin dengan seyakin-yakinnya (haqqul yaqqin) ekspresi wajah yang dibuat oleh si penjual Koran tersebut adalah ekspresi kebingungan! Itu yang pertama, nah yang kedua, kemungkinan besar si penjual Koran itu akan menjawab begini “Koran Detik? Apaan tuh? Dari awal jualan Koran, gak pernah tuh denger Koran Detik?”…

Ok kembali ke soal Gratisnya Majalah Detik tadi, mari kita pikirkan bersama-sama, pasti anda sepakat dengan saya bahwa adalah wajar bagi sebuah perusahaan dalam menawarkan sebuah produk, mereka juga men-charge kita dengan sebuah harga. “Ada Uang, ada Barang”. Model pertukaran/transaksi ini dipercaya sudah berjalan setua umur manusia itu sendiri, dimulai dengan barter hingga pertukaran menggunakan alat transaksi berupa uang. Dan kita semua sudah terbiasa dengan model ini. Nah anehnya, untuk mendapatkan Majalah Detik, kita tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun, alias FREE, dan kualitas Majalah Detik juga bagus juga, ulasannya tajam juga…

Ternyata fenomena ini sudah jamak dilakukan dibeberapa tahun terakhir ini, artinya konsumen mendapatkan sebuah produk dengan FREE tapi kualitas barangnya PREMIUM. Pernah memakai Avast? Avira Antivir Personal? Comodo Firewall? Punya akun Google? Yahoo? Twitter? Facebook? Beberapa teman pasti punya. dan itu free semua ya.

Beberapa latar belakang munculnya Produk FREE-MIUM itu adalah…

Pertama, Produk FREE tapi PREMIUM itu hanya dipakai sebuah pancingan pada kita, sebagai konsumen mereka. Memancing atau menganjurkan kita untuk mau membeli dan memakai produk mereka yang kualitasnya lebih baik, better dan itu berbayar. Mari kita lihat ke avast.com atau avira.com, di halaman awal mereka terdapat 3 level produk software antivirus mereka, selalu di mulai dari tingkat personal/Free, lalu beranjak ke tingkat Internet security. Nah di tingkat Internet security ini, ada beberapa fitur tambahan dan fitur tersebut tidak ada di tingkat personal, seperti spam filter, antipishing, antispyware, dan seterusnya. Ketika seorang konsumen merasa puas dengan produk FREEMIUM tersebut, mereka percaya bahwa kualitasnya bagus, maka akan lebih mudah bagi perusahaan tersebut untuk menawarkan produk lainnya.

Kedua, berfungsi untuk meningkatkan loyalitas konsumennya. Contohnya saya sendiri, saya termasuk pengunjung setia Detik.com karena selain beritanya cepat ter up-date, juga karena saya bisa mendapatkan majalah Detik.com secara gratis dan ulasannya juga tidak kalah bagus juga dengan majalah/Koran-koran bebayar lainnya.

So boleh jadi produk yang sifatnya FREEMIUM (FREE tapi PREMIUM) itu bukanlah murni produk, dalam arti hanya berfungsi bagi konsumen, dikonsumsi, dihabiskan, tapi punya fungsi promosi juga. Beberapa ahli pemasaran mengatakan bahwa Produk itu sendiri sudah merupakan alat promosi yang ampuh bagi perusahaan kepada konsumennya. Ya iya juga ya… 🙂

The Zero Moment Of Truth

What is that?? It looks like some kind of psychic or something, isn’t it?? Hehehe …. i’m afraid that I have to say yessss …tapi kondisi psikis apa? Siapa? Kenapa? Dimana? Bagaimana? Kepada siapa? Well, tunggu penjelasannya. Sabar… Ok, here goes my explanation , tapi mohon maaf sebelumnya jika nanti ada yang salah tulis atau ketik gan hehe, kan ni lagi Ramadhan , berbaik-baiklah kepada sesama, khususnya saya he, kalo gak baik sama saya, nanti saya mokel lo ( opo urusane ???). Lanjut… judul tulisan di atas saya ambil dari nama judul sebuah buku, tepatnya sebuah e-book yang persis sama, dikeluarin oleh tim Google sendiri yaitu: The Zero Moment Of Truth . Buku ini sangat bagus gan, sangat saya rekomendasikan kepada semua temen2 pembaca yang concern dengan pemasaran , bagus kok sumpah bagus (puasa puasa, dilarang bohong)!! Buku bertema pemasaran ini bercerita tentang perubahan perilaku konsumen dalam decision making process , dan proses pembelian sebuah produk saat ini…. A: Loh? Emang perubahan yang gimana se? prasaan dari dulu ya gitu itu deh. B: ok, biar simpel, kita main contoh saja ya. dalam buku ini, penulis sempat bercerita bahwa beberapa bulan yang lalu, dia pernah menginap di sebuah hotel yang berukuran agak besar di New York City . Suatu saat si penulis ini berjalan pulang ke hotel setelah seharian berpergian. Dalam perjalanan ke kamarnya, si penulis sempat melihat poster di lobi hotel: “saksikan the Max Weinberg Band di ballroom malam ini, jam 8 malam”. Setelah membaca poster itu, si penulis sepertinya mulai tertarik dengan Bandnya si Max ini. Seperti yang kita ketahui, sampai di sini, situasi atau kondisi dimana si penulis mulai tertarik dengan si Bandnya Max itu merupakan sebuah situasi pemasaran klasik: kok bisa klasik? ya karena simpel, seorang konsumen akan mengkonsumsi produk setelah adanya stimulus dari produsen. Yang dalam hal ini, stimulusnya adalah poster – “saksikan Max Weinberg – dan pastinya respon si penulis pasti umunya adalah pergi ke ballroom jam 8 malam, beli tiket dan menonton pertunjukannya. So simple isn’t it??  Namun ternyata si penulis ini tidak melakukan hal itu, dia lebih memilih masuk ke kamar, buka laptop , n mulai searching tentang segala info bandnya Max Weinberg ini. Tentang apa aliran musiknya, berapa harga tiketnya, gimana sih ballromnya, dan lain-lain. Setelah puas mengorek info, si penulis ini pun akhirnya mengambil keputusannya. Keliatan gak perbedaanya? Keliatan jelas kan ya? (kalo gak jelas, pake kaca pembesar) situasi pemasaran klasik itu begitu simpel, begitu calon konsumen mendapat stimulus sebuah produk, maka dia akan langsung mencobanya. Tapi sekarang, situasi pemasaran sudah berbeda, ketika calon konsumen mendapatkan stimulus sebuah produk, maka dia tidak akan langsung mencobanya, tapi dia akan cari informasi terlebih dahulu secara online . Ada sebuah langkah yang sifatnya baru, yang itu penting di mata konsumen tapi sering terlewatkan di mata produsen, apa itu? The information searching step right before the consumer make decision step, to buy or not . Oleh tim Google, momen pencarian informasi secara online inilah yang telah mengubah aturan-aturan baku pemasaran. Mereka percaya bahwa momen tersebut adalah sebuah model pengambilan keputusan baru yang terjadi ribuan kali per hari di mobile phones, laptop, notebook , netbook , dll. Momen tersebut adalah sebuah momen ketika pemasaran sedang berlangsung, arus informasi sedang mengalir, dan momen ketika para konsumen membuat keputusan yang akan mempengaruhi sukses tidaknya hampir semua merek di dunia ini. Nah luh! Sangar kan?? Na kalo masih penasaran dengan buku ini, saya kasih deh link untuk download  (via Mediafire) nya… beberapa website juga sudah membahas buku ini salah satu diantaranya marketingpilgrim.com dan google-cpg.blogspot.com Monggo dikunjungi…. 🙂

Ketika Cinta Bertasbih…

jreng, jreng….

sebelum kita membahas artikel saya lebih jauh, perlu saya tekankan bahwa meskipun judul di atas memang ngeplek/copy-paste dengan sebuah judul buku novel best seller di Indonesia, tidak ada niatan sedikitpun dari saya untuk mengupas tuntas buku atau versi filmnya, bersamaan ini juga saya harus memastikan kepada anda bahwa saya tidak berniat gembar gembor kepada teman pembaca sekalian bahwa saya termasuk pemain aktor di dalam filem tersebut!! Sumpah!!…

tapi dapat saya pastikan kepada teman pembaca bahwa judul di atas 100% ada kaitannya dengan artikel pemasaran saya kali ini (ini serius ini pren). You see, dalam membahas pemasaran, kita pasti nggelibet dengan yang namanya konsumen ato customer kita, ya to? ketika kita membahas bab produk, maka kita akan membahas tentang kemampuan produk tersebut dalam mendeliverkan nilai kepada konsumen, ketika kita membahas harga, maka kita membahas tingkat harga yang dipandang sesuai dengan persepsi konsumen tentang produk yang kita tawarkan, ketika kita membahas promosi, sederhananya kita membahas tentang cara kita memperkenalkan produk kita kepada konsumen, ketika kita membahas saluran distribusipun, kita juga pasti berorientasi pada konsumen, dalam arti bagaimana kita mendeliverkan produk kita, mempermudah akses konsumen dalam mencapai produk kita. maka mulai dari membahas produk, harga, promosi, saluran distribusi, (yang dikenal dengan nama marketing mix, bauran pemasaran, 4P), kata kunci berupa ‘konsumen‘ ato ‘pelanggan’ tak pernah ketinggalan untuk nimbrung..

Konsep pemasaran yang baik selalu berorientasi pasar (market oriented). Dan definisi pasar dalam pemasaran itu sendiri adalah sekumpulan pembeli aktual + potensial, bukan pertemuan permintaan dan penawaran seperti yang didengungkan oleh ilmu Ekonomi. Ketika ada kata-kata seperti ini, “pasar produk ini siapa?’, maka kita sedang tidak membahas tentang pertemuan permintaan dan penawaran produk tersebut, tapi kita sedang membahas siapa se sebenarnya yang menjadi sasaran/target produk tersebut.

nah pertanyaannya sekarang adalah bagaimana persepsi kita tentang konsumen kita? bagaimana kita memandang konsumen kita? sekali lagi, pertanyaannya adalah bagaimana kita memandang konsumen kita ? sekedar konsumen? yang kalo sudah bayar, ya sudah, gitu? orang yang sekedar lewat? ato lebih dari sekedar konsumen? atauuuu…. someone who we fall in love with? tau maksudnya? mengapa saya harus menanyakan semua itu?

karena sudut pandang pemasaran yang pertama, yang menyatakan konsumen hanyalah konsumen, tentu berbeda dan pasti sangat jauh perbedaannya dibandingkan dengan sudut pandang yang menyatakan bahwa konsumen adalah orang yang kita sayangi, cintai. yang pertama, akan cenderung ala kadarnya, buat produk sekedarnya, servis ala kadarnya, jualan tanpa ekspresi, datar-datar saja, egois, orientasinya hanya dirinya sendiri (pokoknya gue untung, masalah loe buntung, IDL! Itu Derita Loe!!), dalam jangka pendek, sikap atau pola pikir seperti ini tentu menguntungkan, karena dengan produk ala kadarnya, dan dari bahan seadanya, biaya yang dikeluarkan bisa lebih rendah, unsur kualitas hampir tidak dijamah, la karena biaya rendah, maka harga yang di tawarkan pun lebih rendah (harga adalah cerminan biaya), memang harga rendah pasti menarik perhatian konsumen (so pasti dong!). tapi bicara loyalitas konsumen? nanti dulu, belum tentu….

sementara sudut pandang pemasaran yang menyatakan bahwa konsumen adalah ‘kekasih’nya, tentunya teman2 tau sendiri, bagaimana orang itu kalo lagi kasmaran, ya to? mesraaa banget, semenit tidak bertemu, serasa seminggu! Dunia serasa hanya milik berdua, yang lain nge-kos! ngontrak! dan biasanya pasangan tersebut akan sangat perhatian antara satu dengan lainnya, kalo ada yang sedang kesulitan, maka pasangannya akan berusaha membantu, ungkapan yang tepat dalam menggambarkan hubungan tersebut biasanya adalah ‘gue tertawa kalo loe tertawa, gue ikut sedih kalo loe sedih, penderitaan loe adalah penderitaan gue’. nah kalo mindset pemasaran berbasis cinta ini dilakukan, maka betapa indahnya dunia!, karena dengan mindset ini, kita tidak ingin main-main dalam berurusan dengan pasangan kita, yang dalam hal ini adalah konsumen. kita akan menganggap konsumen kita adalah segala-galanya bagi kita. sehingga dalam membuat produk, menentukan harga, memilih promosi, dan merencanakan saluran distribusi, kita selalu mendasarkan pada kepuasan konsumen. kita ingin agar dan berusaha agar konsumen kita selalu menyukai kita. salah satu keunggulan mindset pemasaran seperti ini adalah adanya pemosisian ‘konsumen sebagai raja’ akan membuat peluang terjadinya loyalitas konsumen yang semakin meningkat, yang pada gilirannya juga akan meningkatkan profit kita juga…

Know what i mean, pren?? i hope soo…

Positioning dan Diferensiasi (Antara Janji dan Bukti)

Artikel sebelumnya, sudah saya jelaskan tentang pentingnya positioning dalam pemasaran. positioning itu apa se? positioning itu adalah usaha menciptakan sebuah identitas dalam pikiran sebuah pasar sasaran. terlalu rumit ya? ok, simpelnya, positioning dalam pemasaran adalah JANJI kita kepada konsumen kita.

So apakah cukup saja buat kita hanya ngumbar janji belaka?? akan percayakah pasangan kita, kalo kita cuma bercuap2 ria, “Dek cuma engkau seoranglah yang ada di hatiku“..tanpa kita berusaha untuk berbuat sesuatu yang menunjukan bahwa kita ini memang setia, BETUL-BETUL setia??….

Disinilah peran Diferensiasi bermain, nah pertanyaannya sekarang, apa se Diferensiasi itu? Memang secara pengertian, diferensiasi bisa berarti sebagai cara kita sebagai produsen untuk membedakan produk kita dengan pesaing kita, kata kuncinya disini: UNIK.  itu kalo orang jawa bilang: “saklek“, secara simple, Diferensiasi itu hakikatnya ‘bukti’ dari ‘janji’ kita kepada konsumen kita, ya karena dalam positioning itu pun juga terkandung unsur-unsur unik juga. Lo kok bisa? pemahaman tentang konsep positioning dan diferensiasi ini di latar belakangi oleh situasi pasar saat ini.

seperti kita ketahui, bahwa saat ini, situasi pasar di dunia, pun di Indonesia, bersifat “explosion of choiceledakan pilihan!! coba kita perhatikan betul2, hampir di semua kategori/jenis produk pasti ada pesaingnya, kompetitornya. dari sepeda motor sampe makanan, dari perguruan tinggi sampe tukang pijat, itu ada semua pesaingnya.

Nah kalo dengan kondisi penuh persaingan ini kita tidak berjanji dan berusaha untuk tampil berbeda, different, unik, ya resikonya produk kita akan dianggap sebagai produk komoditas, standar-standar saja, gak ada yang spesial di dalamnya. kalo sudah dianggap komoditas, maka tidak ada loyalitas konsumen di sana, konsumen dengan mudah berganti produk tanpa ada penyesalan (nah lo, kalo sudah gini kan bisa berabe!!)…

So be Unique, Different!!

Penasaran dengan Pemasaran II

Baru beberapa hari terakhir ini, saya menyadari bahwa pemahaman teman-teman mahasiswa tentang manajemen pemasaran ataupun strategi pemasaran, dan bahkan pemasaran itu sendiri ternyata melenceng jauh dari apa yang saya jelaskan. Tapi tunggu dulu, kalimat itu bukan berarti saya meragukan kemampuan logika dan analisis teman-teman mahasiswa. Pun melenceng jauh itu bukan berarti salah kaprah, dalam arti saya yang benar, mereka yang salah, oohhh noo, is not like that, seriously…

Pemahaman mahasiswa yang nylentang tentang pemasaran maksudnya adalah bahwa yang melakukan pemasaran itu hanyalah perusahaan-perusahaan pembuat produk (barang/jasa) + perusahaan ritel, titik. Itu saja…lintunipun mboten nate nglakoni yang namanya pemasaran. Di sinilah yang menjadi ganjalan saya, bahwa jika yang melakukan pemasaran hanyalah para produsen, maka saya harus jujur mengatakan bahwa: sejauh yang saya pahami tentang pemasaran, itu masih sempit …

Pemasaran itu ada dimana-mana, mulai dari tukang becak sampai anggota DPR, dari mahasiswa sampe dosen, dari anak, suami, istri punnnnn…sadar tidak sadar, suka tidak suka, mau tidak mau, kita semua pasti melakukan yang namanya pemasaran. Gak percaya? Ok, kita ambil satu contoh sederhana saja, dalam pemasaran kita mengenal istilah “positioning”, perlu agan2 ketahui, bahwa positioning ini bukan tentang penempatan produk kita, dalam arti produk kita di jual dimana, bukan itu. Pun juga bukan tentang tentang posisi perusahaan kita terhadap pesaing kita (yang pemimpin yang mana), bukan juga. Menurut Hermawan Kertajaya, positioning itu ibaratnya “janji” kita kepada konsumen kita, terlepas bahwa positioning menurut ahli pemasaran lainnya adalah tentang cara kita membuat konsumen mempersepsikan produk kita lebih positif.

Nah, kembali ke contoh, tentunya anda atau kita sajalah wes biar kesannya saya tidak menuduh anda, pernah atau sudah punya yang namanya pasangan (pacar/istri/suami), ya kan? Dan saya yakin kita pernah “nggombal” ke pasangan kita ya kan? “Dek, engkau memang bukan yang pertama dek, tapi yakinlah, bahwa engkau adalah yang terakhir buat akang, dek”, dan si adek pun menjawab, “dapurmu mas mas, kita masih SD kok, sudah ngomong begituan!”, ya to? (ngaku saja!!)…

Nah kata-kata janji yang diucapkan di atas, itu kan juga bicara positioning juga, karena kita sedang berjanji untuk setia kepada pasangan kita kan? Ibaratnya kan kita sedang melakukan cara agar pasangan kita mempersepsikan kita sebagai orang yang setia kan? Contoh di atas itu sudah termasuk pemasaran lo pren. Hal ini sering juga kita lakukan kepada konsumen kita, “pak produk kita ini jempolan lo pak (maksudnya ukurannya sak jempol :D), wes pokoke tok cer wes, dijamin lancar dah…”, kan hampir sama ya kan dengan contoh hubungan asmara di atas, sama-sama berjanji…

Jangan kan contoh tentang hubungan asmara seperti di atas, dalam agamapunnnn, ada lo pemasaran. Masih gak percaya??

Plus, bagaimana pembuktian “janji” atau positioning itu?…

Tunggu tanggal mainnya…sori, maksudnya penjelasan selanjutnya….

Penasaran dengan Pemasaran?

Assalamu’alaikum, pren..

how’s the day? Good? Alhamdulillah then, kalo Bad? Innalillah is the right word then hehehe…

but nevermind, kita harus tetep maju, bergerak ke depan, beraksi, biarpun kafilah menggonggong, anjing harus tetep berlalu (a: kuwalek gan!!, b: ya sori bosss, grogi nih , maklum msih newbie)…

Ok pren untuk kali pertama ini, saya hanya berniat berbagi pemahaman saya tentang pemasaran kepada anda yang memang tertarik dengan pemasaran, ato ‘terpaksa’ tertarik dengan pemasaran (yang ini biasanya kalangan mahasiswa yang lagi ‘terpaksa’ karena ‘dipaksa’ dosennya cari artikel-artikel tentang pemasaran).  karena ini masih postingan pertama saya, jadi mohon ma’ap selebar-lebarnya jika kualitas penjelasan saya yang ala kadarnya dan cenderung pateng pecotot… tapi harus saya tekankan kepada teman semua, bahwa saya BERSEDIA belajar dan SELALU belajar untuk menjadi lebik baik hehehe…

kembali ke pokok bahasan kita kali ini…

teman smua pasti sudah kenal dengan yang namanya Pemasaran kan ya? dan kalo ditanya apa se pemasaran itu, pasti anda bisa menjawab dengan BAIK, saya yakin itu dan tak pernah meragukan sedikitpun, meskipun ada peluang bahwa jawaban tersebut belum tentu BENAR atau PAS lah minimal….. maksudnya gini pren, saya ambil contoh saja ya, biar jelas (katanya, kalo pingin lebih jelas, sering2lah pake contoh) sering kali saya bertanya kepada para mahasiswa saya tentang apa se pemasaran itu? mereka pun menjawab dengan baik, dan jawabannya pun macam2….

ada yang mengatakan bahwa pemasaran itu adalah mengenalkan produk, ada lagi yang mengatakan sebagai seni menjual produk, ada pula yang mengatakan pemasaran itu identik dengan SPG, macam-macamlah…bahkan ada juga (paling parah ini!) yang mengatakan bahwa pemasaran itu cara ngapusi orang biar mau beli produk kita. semua jawaban ini sifatnya BAIK, tapi kurang BENAR..

jawaban2 tersebut memang mengandung unsur pemasaran, tapi tidak mencerminkan pemasaran itu sendiri. Bingung ya? hehe (pancen tak gawe bingung, ben dipandang expert dikit to). ini seperti menjelaskan atau menggambarkan seekor gajah, ada yang mengatakan bahwa gajah itu kuat, metekel, karena yang dilihat hanya kakinya yang besar, sementara yang lain mengatakan bahwa gajah itu panjang, karena kebetulan yang dipegang belalainya…

seharusnya deskripsi gajah kan lebih luas daripada itu ya to? lebih dari sekedar kaki, belalai, atau anggota tubuh yang lain. mirip lagu anak2 itu lo: Gajaaahh, binatanggg yang amatt besar, hidungnya panjanggg, telinganyaaa lebar, dst… Be-Gi-Tu juga pemasaran pren, pemasaran lebih dari sekedar menciptakan produk, lebih dari sekedar mempromosikan produk, lebih dari sekedar menjual produk. pemasaran melingkupi kesemuanya…

seperti pak Rhenald Kasali bilang, konsep pemasaran itu dimulai dari pasar dan berakhir di pasar pren. the maksud is? di mulai di pasar adalah menganalisis kebutuhan konsumen. maksudnya lagi bahwa pemasaran itu sudah terjadi ketika anda sedang menganalisis apa se yang dibutuhkan masyarakat/konsumen sekitar itu? apa se yang dinginkan? itu pren, sudah masuk di dalam ranah pemasaran, so jauh sebelum mempromosikan produk lo pren…

berakhir di pasar maksudnya adalah bahwa kita bisa memenuhi kebutuhan konsumen tersebut dengan menawarkan produk kita, yang merupakan hasil analisis kebutuhan/keinginan konsumen tersebut. la penjelasan ini juga yang membedakan antara pemasaran dan penjualan pren

kalo penjualan, kita cuma sokor dodolan, ora peduli butuhe wong2 ki opo, “aq isone mung nggawe krupuk kok, yo  aq dodolan krupuk to yo (jualan saja, tidak peduli yang dibutuhkan orang-orang itu apa, saya bisanya cuma buat krupuk kok, ya akhirnya ya jualan krupuk to yo)“…

la kalo pemasaran, kita cek dulu, “mbah, njenengan niki butuhe nopo? tempe? sanes kerupuk mbah? nggeh pun, mangke kulo damelaken ingkah katah…yutrone gampil pun, pokoke tunai hehehe (Nek, nenek ini butuh apa se? tempe? bukan krupuk nek? ya sudah, nanti saya buatkan krupuk yang banyak..uangnya nanti saja, pokoknya tunai hehe)”…akhirnya berdasarkan analisis kebutuhan si mbah tadi, kita buat produk berupa tempe untuk memenuhi kebutuhan si mbah tadi….

See the difference, guys??