Indonesia: Antiteori…

Indonesia betul-betul antiteori, minimal ini yang saya rasakan ketika banyak memperhatikan, banyak berbicara dengan beberapa pelaku, penderita ekonomi di sini saat ini. banyak hal-hal yang diluar teori, rumus, atau bahkan persamaan-persamaan baku yang kita temui di sekolah dan universitas. la kok bisa bos? saya kasih contoh gini, secara teori, kalau ingin menikahi seorang wanita, kita sebagai seorang pria, harus punya modal dahulu, ya minimal punya pekerjaan tetap dulu. ha la, tapi ini nggak e, kalau di sini, jelas-jelas nggak punya pekerjaan, rabi, nduwe anaaaaakkk teruss, nanti kalau ditanya, modalmu opo le? Bismilah pak, nah luuh…

dan ini banyak terjadi…

Situasi diatas bisa ditambahi dengan kredit sepeda motor, atau mobil, atau bahkan kontrak rumah dulu.

simpelnya apa sih, nekad, dan nekad itu tidak ada rumusnya, yo nekad saja, sudah cukup..

itu yang pertama…

yang kedua, sesungguhnya kemerdekaan kita juga terbantu dari “kenekadan” tokoh-tokoh kita kok, ketika itu ada kekosongan/ketidakjelasan penguasa di Indonesia, na pas itu terjadi, tokoh-tokoh kita memanfaatkan betul momen tersebut, kalau menurut saya lo ya, yang paham betul tentang sejarah negara kita, monggo saya diberitahu, benar atau salah. contoh lain lagi, kota pahlawan, Surabaya, juga dikenal tentang kenekadannya ketika mempertahankan kotanya, rakyat Surabaya hanya bermodal pring di landepi (bambu runcing), dan yang dihadapi pake senjata pistol, dan itu menang gitu lo, la ini sangat tidak logis, pring lawan pistol bisa menang i lo? lo yo opo se? dan akhirnya dari Surabaya jugalah terkenal dengan istilah “Bonek”nya, Bondo Nekad..

itu juga berlaku saat ini, betapa menjamurnya kartu kredit saat ini, mungkin ada hubungannya dengan nekad tadi, ya silahkan dikaji lah, pokoke bayar sek, masalah nyicil urusan belakang. itu dari sisi konsumen/pengguna. la sisi penjual, ya gitu juga, nantikan ada istilah “engkok lak moro-moro dewe” maksudnya konsumen kita itu nanti datang sendiri kok, tenang saja. gak perlulah macem-macem, pokoke ndang di buka tokone. gitu…

jadi langkah-langkah manajemen pemasaran yang baik, yang canggih, yang ribet setengah mati itu tidak dilakukan, tapi terbukti bisa juga gitu looo…

peh jan, hebat benar masyarakat kita ini, bangga bener saya…

dan apa yang saya bahas tentang nekad ini tidak berarti negatif, malah sebaliknya positif banget. cuma mari kita kaji bersama, yang membuat kita nekad, itu apa. seperti hukum sebab akibat, nekad itu ada di posisi akibat, la penyebab timbulnya nekad itu apa. ini yang menarik, apanya gitu lo…

mungkin sebaiknya kita tak perlu banyak berkiblat pada dunia barat, ke negara kita sendiri sajalah, kita pelajari mendalam situasi yang ada di sini, kita kaji, kita buat teori, lalu kita lempar teori tersebut kepada dunia. jadi bukan kita yang belajar pada dunia, tapi dunia yang belajar ke kita, gitu looo…

sombong-sombong sedikit kan gak papa. jangan minder saja kerjaannya.

kesimpulannya, belum Indonesia tulen, kalau belum nekad…

Iklan